Terimalah Aku

Kawan, kau dimana ?

Saat tak ada lagi yang menyeka

Air duka,

Peluh yang berdarah,

dan mata nanar sengsara

aku ingin berbagi yang kupunya,

sepotong tawa renyah bahagya

segaris senyum sederhana

tentang duka…

juga luka…

dan kau tak kunjung tiba

wahai kawan, beginilah aku adanya

aku yang bahagia

dengan kefakiran cinta Tuhannya.

 

September ’04

penyair: Lufti Avianto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s