Beternak Ide

oleh : Nursalam AR

*”Uang hanyalah sebuah ide.” (Robert T. Kiyosaki)*
Jika uang hanyalah sebuah ide maka memperbanyak ide sebanyak-banyaknya sama saja dengan mengembangbiakkan uang yang akan didapat. Dalam konteks industri kepenulisan –yang aroma bisnisnya tak beda jauh dari industri *real estate*yang ditekuni Kiyosaki yang juga penulis buku *Rich Dad Poor Dad*-–ide harus ditangkap bahkan harus diternakkan. Ibarat hewan ternak, ia harus dirawat, dikembangbiakkan dan tak ayal dijual. Lihat saja fenomena novel *Ayat-Ayat Cinta*-nya Habiburrahman El-Shirazy atau *Laskar Pelangi* karya Andrea Hirata yang menuai royalti milyaran rupiah dan menjejak dunia layar lebar. Inilah contoh nyata betapa ide bagi seorang penulis tak ubahnya hewan ternak yang merupakan aset tak ternilai.

Jika ide adalah hewan liar maka ia harus ditangkap, dijinakkan, didomestikasi. Seperti halnya orang-orang dulu mendomestikasi kuda atau unta untuk menjadi tunggangan yang bermanfaat untuk keperluan manusia. Sarana penangkapnya bisa dengan banyak cara. Hemmingway menangkap ide dengan jalan mengetik apa saja di mesin ketiknya jika mengalami kemampatan ide. Gola Gong melakukan perjalanan keliling dunia untuk menjaring ide *Balada Si Roy* dan *Perjalanan di Asia*. A.A Navis memilih nongkrong di toilet berjam-jam –hingga konon ia terserang wasir—demi mengejar sang ide.

Beberapa penulis lain ada yang menenggelamkan diri dalam tumpukan buku, ngopi di kafe dengan laptop siaga di ujung jari atau sekedar bermain voli untuk menjinakkan makhluk bernama ide ini. Intinya: ide harus ditangkap. Karena ide juga ibarat sambaran kilat. Jika tak cekatan disergap, ia akan meluncur menghunjam bumi dan teredam, tak berdayaguna apa-apa. Maka tangkaplah ide dengan keberanian Benjamin Franklin – sang penemu arde alias penangkal petir –menangkap petir dengan layang-layang yang digantungi kunci besi pada benangnya di tengah hujan deras yang ramai kilat. Sebuah
keberanian bernyali dengan keingintahuan yang besar dan semangat mencoba sesuatu yang baru.

Jadi sudah basi – dan tipikal adegan di film Indonesia era 70an – jika kita membayangkan seorang penulis mencari ide dengan hanya terbengong-bengong di depan alat tulis dan kertas atau memegangi kepala dengan rokok mengepul seperti asap kereta uap. Seperti kata Umar bin Khattab,”Rejeki tidak jatuh begitu saja dari langit. Bekerjalah!” Ide juga harus disodok jatuh seperti kita menyodok mangga ranum dari pohon yang rimbun.

Jika mangga sudah jatuh, jika hewan liar sudah ditangkap dan dijinakkan, apa yang harus kita lakukan? Dengan segala amsal tersebut, ide yang lebih mahal dari Buah Merah asal Papua dan lebih ajaib dari hewan Pegasus dalam mitologi Yunani adalah harta karun yang wajib didepositokan dan hewan ternak yang teramat mahal untuk tidak dipiara. Dan perlu jurus-jurus khusus untuk beternak ide.

*Jurus Pertama: Kandangkan*
Kandangkan ide dalam laptop, komputer, USB, disket, mesin ketik, notes, agenda atau diary atau apapun fasilitas penyimpan data yang kita miliki. Meskipun hanya berupa satu kalimat yang diperoleh dalam lintasan di benak saat menunggu kereta api yang telat, misalnya,”Kereta yang ingkar janji”. Jangan remehkan kuantitasnya karena itu adalah embrio yang terlalu mahal untuk diaborsi.Siapa mengira jika coretan ide JK Rowling di atas tisu bekas akan menjelma menjadi bayi raksasa bernama *Harry Potter* yang
bertahun-tahun menghipnotis dunia?

Jadi jangan biarkan ide hanya berkelebat mampir di benak. Kurung ia karena ia lebih liar dan lebih mudah pergi bahkan lebih rentan dicuri daripada uang. Jika perlu, perlakukan ide sama berharganya dengan uang yang kita setorkan ke bank. Milikilah bank ide – dalam bentuk apapun — yang isinya selalu dapat kita setor dan tarik setiap saat.

*Jurus Kedua: Beri makan*
Jika bakpao adalah makanan untuk badan, buku dan kontemplasi (zikir, tadabbur, meditasi, yoga dll) adalah makanan untuk otak dan jiwa. Inilah asupan terbaik untuk hewan ternak bernama ide. Semakin variatif dan bergizi jenis asupan semakin bongsor dan berbobot ide tersebut.

“Every man’s work, whether it be literature or music or pictures or architecture or anything else, is always a portrait of himself.”(Samuel Butler).Dalam konteks tersebut sebuah pepatah berbahasa Inggris cukup relevan jadi panduan. “Ordinary people talk about people; mediocre people talk about events and extraordinary people talk about ideas.” Orang-orang kelas bawah membicarakan orang, orang –orang kelas pertengahan membicarakan peristiwa sementara orang-orang yang berkaliber luarbiasa membicarakan ide atau gagasan. Jika dunia seorang penulis hanya melulu sarat dengan bacaan ringan, gosip selebritas dan hal-hal remeh temeh maka output dan kualitas tulisannya tak jauh dari apa yang dimamahnya tersebut.Ia hanya menjadi penulis berkategori kelas bawah bukan yang sedang-sedang saja apalagi luarbiasa. Seperti kata orang bijak, jangan penuhi pikiranmu dengan hal-hal kecil karena akan terlalu sedikit ruang untuk pikiran-pikiran besar.

*Jurus Ketiga: Kembangbiakkan*
Kawinkan ide baik dengan inseminasi atau kawin silang. Sapi Madura petarung karapan yang tangguh adalah hasil percampuran benih sapi pilihan. Ide unggulan juga begitu, ia mewarisi kualitas genetis masukan yang membentuknya. Dalam *How To Be A Smart Writer**,* Afifah Afra – penulis top FLP dengan sederet novel *best seller* salah satunya novel sejarah *Javasche Orange* – mengenalkan dua cara mengembangbiakkan ide yakni – yang saya istilahkan inseminasi dan kawin silang. *Inseminasi* adalah memasukkan elemen baru terhadap sebuah ide atau kisah lama. Misalnya, jika dalam
dongeng Malin Kundang yang menjadi batu adalah Malin Kundang, mungkin sangat
menarik jika yang menjadi batu adalah ibunya karena dinilai lalai dan bertanggung jawab terhadap perubahan akhlak si Malin.

Sementara *kawin silang* adalah memadukan dua unsur cerita yang berbeda. Ambil contoh kisah Cinderella dan Putri Salju (*Snow White*). Cinderella yang berbahagia karena sepatunya pas dengan ukuran sepatu kaca bisa saja kemudian tewas memakan apel beracun. Kemudian ia hidup kembali setelah dicium sang pangeran. Atau jika ingin lebih komedik, Cinderella hidup kembali setelah mencium bau sepatu kaca yang disodorkan tujuh kurcaci.

*Jurus Keempat: Jual*
Juallah ide dalam bentuk menuliskannya. “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, “demikian pesan Ali bin Abi Thalib, yang kerap diusung tokoh motivator menulis Hernowo dalam berbagai bukunya. Jika tidak mampu menuliskannya, ide tersebut dapat dijual ke seorang teman yang menuliskannya. Soal hitung-hitungan finansial itu bisa jadi kesepakatan. Dalam dunia sinetron sudah lazim seorang penulis menjual ide dan soal eksekusi penggarapan diserahkan kepada tim penulis skenario. Si penulis sendiri mungkin hanya sekedar mensupervisi atau menjadi *head writer*. Itu sekedar contoh. Namun kita tentu layak dan amat berhak menerima kehormatan untuk menuliskannya
sendiri. Tentu jika kita berani memanen setelah susah-payah menebar benih dan merawatnya.

Nah, nikmatilah hasil beternak ide. Namun pertanyaan pertama, sudahkah kita punya nyali untuk beternak ide?

*Jakarta, 17 Maret 2008*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s