Teknik Menulis Artikel Ilmiah (2)

Oleh: Indra J. Piliang
pengamat bidang sosial politik CSIS

Saya juga mendapatkan ide tulisan dari apa yang saya baca. Kadang-kadang sepotong berita dan kalimat di sesobek koran. Biasanya, kalau saya ingin menulisnya, tema atau ide itu terus-menerus mendesak saya untuk segera dituliskan. Kalau saya sudah mulai menulis, biasanya saya melupakan yang lain. Tetapi saya juga bisa menulis di tengah kebisingan atau pembicaraan. Kadang, dalam seminar, ketika menjadi pembicara, atau ketika berbicara dengan orang lain, saya tiba-tiba berhenti dan menuliskan sesuatu di catatan atau handphone atau XDA saya. Saya takut kalau ide atau potongan kalimat itu tiba-tiba hilang, karena saya pasti menyesalinya.

Anehnya, kalau saya membaca buku serius atau teoritis, saya justru tidak akan bisa menulis beberapa hari. Saya akan tenggelam dalam buku itu. Biasanya kalau ada sesuatu yang terbersit, saya menulis di pinggiran buku itu, misalnya bagian yang hendak saya kutip untuk makalah atau ide yang hendak saya pertentangkan dengan apa yang tertulis di buku itu. Makanya, saya kadang-kadang agak kesulitan untuk “larut” dalam keadaan, karena itu bisa mematikan saya.

Ide juga bisa muncul dari orang lain, dan ini yang dikritik oleh teman saya sebagai tidak genuine. Misalnya, beberapa redaktur opini meminta saya menulis tema tertentu dengan waktu tertentu. Biasanya saya cepat menuliskannya, karena mengejar deadline. Kenapa bisa cepat? Karena saya mengikuti perkembangan berita dengan rutin, lalu membangun opini tersendiri atas berita atau peristiwa itu. Hanya, saya merasa menulisnya tidaklah penting atau tidak punya waktu. Baru ketika diminta oleh redaktur opini media massa itu saya merasa, “O, menulis soal ini penting, toh?” Kadang, karena merasa bosan atau tulisan yang saya kirim lama dimuat atau tidak dimuat sama sekali, saya berhenti menulis dan menganggap semua hal tidak penting, kecuali tulisan saya yang lama baru dimuat itu atau yang tidak dimuat itu.

Struktur Penulisan. Lalu bagaimana saya menuliskan sesuatu yang “penting” atau “tidak penting” itu sehingga tersaji di depan publik dalam lembaran-lembaran koran? Bagaimana struktur penulisan yang baik? Berdasarkan pengalaman, menurut saya, tulisan yang baik itu harus memuat unsur-unsur berikut.

Pertama, kuat dalam data. Kadangkala saya juga ceroboh dalam hal ini, terutama menyangkut nama, peristiwa, singkatan, atau bahkan tanggal. Tetapi, karena peristiwa politik berlangsung cepat, soal data itu juga tidak selalu akurat ditulis oleh media, karena informasi pagi hari bisa berubah sore dan malam hari. Tetapi, apapun itu, penulis yang baik hendaknya jangan sekali-kali memanipulasi data.

Kedua, sedikit teori. Dulu saya sempat menulis dengan cara mengutip buku, bahkan juga sekarang. Ada kelompok pembaca yang menyenangi jenis ini, terutama kalau kita mengutip buku atau artikel terbaru berbahasa Inggris, seperti yang banyak dijumpai di perpustakaan CSIS. Tetapi, lama kelamaan, saya merasa cara seperti ini tidaklah menarik.

Alasannya antara lain, analisa atau teori dalam buku itu mencakup spektrum atau konteks tertentu. Teori transisi atau konsolidasi demokrasi, misalnya, tidak sama antara Philipina, Brazil, Thailand atau Malaysia. Kalau hanya mengambil kesimpulan akhir dari sebuah buku atau artikel, berdasarkan uraian panjang lebar atas persoalan tertentu, berarti yang terjadi adalah inplantasi atau pencangkokan. Dalam soal artikel koran, saya sependapat dengan Bara Hasibuan betapa rata-rata kolom di Indonesia terlalu berat, reflektif dan teoritis. Referensi Bara tentunya International Herald Tribune dan koran-koran luar negeri lainnya.

Ketiga, tidak mendalam, tetapi juga tidak dangkal. Kalau ingin menulis mendalam, pakai kerangka teori, sebaiknya tulisan itu dikirimkan ke jurnal atau lebih baik lagi yang ditulis adalah buku, bukan artikel atau kolom. Yang diperlukan adalah bingkai dari keseluruhan tulisan dan bagaimana bingkai itu diberi daging opini dan bahkan selimut pendapat. Kalau terlalu dalam, bisa-bisa tulisan itu malah menyesatkan atau liar kemana-mana. Makanya, bagi sejumlah kawan penulis opini media, biasanya yang dicari adalah judul tulisan terlebih dahulu, ketimbang isinya. Tetapi ada juga yang menjadikan pemberian judul setelah tulisan selesai. Saya menggunakan keduanya, sekalipun saya lebih senang dan cepat menulis kalau sudah menemukan judul yang cocok.

Keempat, ringkas. Ringkas bukan berarti padat atau ringkasan. Saya biasanya kebingungan kalau membaca kolom atau artikel ekonomi yang dipenuhi dengan angka dan prosentase serta istilah-istilah teknis lainnya. Pembaca koran yang baik mungkin memerlukan kamus khusus untuk bisa memahami artikel itu. Tetapi bagaimana bisa anda menyiapkan kamus di terminal bus atau di kursi pesawat yang terbang jauh di atas langit? Tulisan ringkat bisa memuat unsur 5W-1H, tetapi sekaligus juga mengandung tiga hal: pembuka (angle), isi dan penutup (refleksi). Tulisan ringkas juga sedapat mungkin menggunakan pilihan kata populer/sederhana, ketimbang teknis ilmiah.

Kelima, tepat sasaran. Anda ingin menujukan tulisan buat siapa? Kalau saya menulis agak panjang (1200 karakter, misalnya), biasanya saya tujukan tulisan itu ke kalangan mahasiswa atau pembaca yang biasa mengkliping artikel. Tetapi kalau tulisan pendek, dalam pikiran saya langsung tergambar siapa saja orang yang saya “tembak” dengan tulisan itu. Tentu berlainan antara tulisan yang ingin ditujukan ke kalangan pengambil keputusan dengan tulisan kepada khalayak ramai yang ingin “memahami” sebuah peristiwa. Sebagaimana media mencari pangsa pasar, maka dalam diri penulis mestinya juga sudah tersedia sejumlah pangsa pasar bagi pembaca tulisan-tulisannya.

Keenam, karakter media. Media tentu juga memiliki visi dan misi. Karakter masing-masing media berlainan. Saya punya catatan khusus tentang media-media tempat saya mengirimkan tulisan saya, serta saya gunakan untuk mengirimkan tulisan saya. Biasanya, saya tidak berpikir untuk menulis sebuah kolom atau artikel dengan cara sesudah selesai baru dipikirkan mau dikirim kemana. Ketika menulis, saya sudah tahu tulisan ini ditujukan ke media apa, lalu secara “otomatis” kalimat-kalimat yang saya bangun juga akan “sebangun” dengan media itu. Hal ini memang berat, karena karakter penulis bisa-bisa hilang. Tetapi saya selalu mempunyai sejumlah hal yang menurut saya “khas” saya, sehingga orang mengenali itu sebagai tulisan saya. Saya sebetulnya juga berharap bahwa tulisan-tulisan saya dibaca bukan karena saya penulisnya, tetapi karena ada cita-rasa tersendiri dari tulisan itu.

Ketujuh, sebetulnya boleh ada kutipan (awal, tengah atau akhir tulisan). Tetapi ini konsep yang sangat klasik. Terkadang saya tidak mengutip, tetapi memberikan cerita. Kutipan juga seringkali menjadi sempalan dari sebuah tulisan, karena kalau tidak tepat menempatkannya, bisa-bisa ia menjadi semacam benalu atau kangker. Kutipan yang baik adalah yang bisa menyatu dengan keseluruhan tulisan. Dulu saya mengutip lewat wawancara, sekarang yang makin sering adalah lewat sms. Saya pernah kaget ketika Revrisond Baswir menulis di Republika dengan diawali oleh sms dari saya. Saya juga pernah menulis di Koran Tempo dengan kutipan langsung sms dua orang menteri, tetapi saya tidak menyebutkan siapa menteri itu karena kurang etis.

Sebetulnya apa yang saya tuliskan ini sangat pribadi. Mungkin banyak yang tidak memahaminya, karena memang keluar dari kerangka umum. Sebelum menjadi penulis, bertahun-tahun saya membeli buku-buku tentang penulisan, baik ilmiah atau populer. Banyak teori penulisan yang muncul dalam buku-buku yang mudah didapatkan di loakan itu. Tetapi, ketika saya menulis, tentu buku-buku itu tidak ada lagi di meja saya. Sesekali saya memang perlu membacanya untuk sekadar mengambil jarak atas tulisan-tulisan saya sendiri.

One comment on “Teknik Menulis Artikel Ilmiah (2)

  1. Trisnawati Anggara mengatakan:

    Terima kasih untuk Bung Indra atas tulisannya. Begini Bung, pada dasarnya orang menulis berorientasi pada tindakan sosial, bahkan aktualisasi diri. Jarang orang menulis untuk dinikmati sendiri. Masalahnya tidak semua orang yang berkemampuan dan potensial menulis memperoleh kesempatan mengkomunikasikan gagasannya di ruang publik. Acapkali media massa sebagai sarana yang efektif cenderung melihat dan memilih publikasi berdasarkan aspek otoritas pribadi daripada kemampauan seseorang. Banyak generasi muda tidak menikmati pergulatan wacana, seperti era Sukarno versus Natsir, sesuatu yang kontraproduktif di tengah menjamurnya media massa. Generasi muda pada akhirnya tersubordinasi sebagai penonton yang terpaksa menelan gagasan yang out of date. Apa ini bisa diperjuangkan! Terima kasih.
    Trisnawati Anggara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s