Teknik Menulis Artikel Ilmiah (3)

Oleh: Indra J. Piliang
pengamat bidang sosial politik CSIS

Tips Khusus Bagi penulis baru atau lama, ada beberapa tips khusus yang saya rasa perlu, terutama untuk “menembus” media massa mapan. Anda bahkan bisa menjadi penulis produktif kalau mempraktekkannya. Ketika saya mempraktekkannya, dulu, saya pernah kaget ketika tanggal 9 bulan itu saya sudah menemukan 10 tulisan saya di media cetak. Artinya, tulisan saya itu lebih dari satu dalam sehari. “Kegilaan” itu tidak saya lanjutkan, karena ada banyak nasehat agar saya bisa menjaga jarak. Apalagi motif saya menulis kala itu salah satunya uang, karena dari menulis saja saya bisa mendapatkan Rp. 5 Juta per bulan.

Tips khusus itu adalah, pertama, perhatikan headline atau tajuk rencana harian/majalah yang bersangkutan. Dari headline dan tajuk rencana itu, kita bisa membaca kearah mana setting agenda dari media yang bersangkutan. Kalau anda temukan headline tertentu dan tajuk rencana tertentu ditulis berkali-kali, tetapi tidak ada juga opini yang ditulis pihak luar, maka kesempatan masuknya tulisan anda bisa 100%. Saya sering “tertawa” ketika menemukan kolom atau opini yang tidak terlalu bagus, tetapi tetap dimuat, karena memang sangat sesuai dengan concern media itu dalam tajuk rencana dan headlinenya. Kalau perlu, anda kutip tajuk rencana media tersebut, lalu mengupas dan mengkritiknya.

Kedua, temukan judul yang pas dan ringkas terlebih dahulu. Judul adalah otak dan otot bagi sebuah tulisan pendek. Sering malah sebuah tulisan dimuat karena judulnya, sekalipun isinya biasa-biasa saja. Karena memang ditujukan kepada orang yang mungkin sedang minum kopi atau istirahat, sebuah artikel pendek akan langsung dibaca ketika judulnya menarik. Isinya bisa apa saja, tetapi judul sudah menjadi iklan yang luar biasa. Saya sering mendapatkan komentar atas tulisan, hanya karena judulnya. “Kursi RI 1 untuk Apa, Jenderal” (Kompas, 29 April 2004) termasuk yang mendapatkan banyak reaksi positif. Padahal, tulisan itu sempat dirombak dan diganti judul, sekalipun isinya tidak banyak berubah.

Ketiga, kalau ingin menjadi penulis terkenal, sebaiknya kejar media “besar” terlebih dahulu, namun jangan berlebihan. Saya kira “teori” kirim 100 artikel sekalipun ditolak gugurkan saja. Untuk apa anda mengirim 100 artikel kalau semuanya tidak dimuat? Kalau anda betul-betul bertahan dalam susah, lalu memperbaiki tulisan anda, lantas sekali sebulan mengirim ke media besar yang sama, saya kira anda akan mendapat tempat. Tetapi jangan lupa, bahwa dengan cara seperti itu anda sebetulnya harus bersiap-siap untuk mendiskusikan tulisan anda jauh lebih dalam dari apa yang anda tulis.

Keempat, usahakan menjadi spesialis. Banyak yang menyebut saya bukan spesialis ilmu tertentu, karena tema yang saya tulis terlalu banyak. Spesialisasi saya, ya, sebagai penulis saja. Akan lain misalnya seorang penulis mempunyai spesialisasi ilmu pengetahuan tertentu, karena dia akan dicari pascatulisan itu terbit. Saya akui, dulu saya menulis banyak hal, sekalipun pelan-pelan ingin saya arahkan ke satu-dua tema saja. Tetapi kesulitan menjadi spesialis juga ada, yakni anda akan sangat tergantung kepada momentum. Penulis yang baik harus bisa menyiasati momentum, sekalipun punya spesialisasi, yakni dengan menjadikan peristiwa apapun sebagai jalan pembuka. Ahli-ahli pemilu, misalnya, akan sulit menulis ketika musim pemilu sudah lewat. Kalau ia kreatif, setiap bulan bisa saja menulis segala sesuatu lalu mengaitkannya dengan pemilu.

Kelima, jangan lupa membikin tabungan naskah. Anda pasti akan membutuhkannya, terutama kalau anda betul-betul menjadi penulis besar. Ketika produktifitas tulisan saya begitu tinggi, sebagian saya ambil dari tulisan ketika mahasiswa. Untunglah saya memasukkan beberapa ke dalam komputer, sehingga tinggal mengolahnya lagi sesuai dengan kebutuhan sekarang. Akan tetapi, model dan karakter tulisan mahasiswa itu tentulah berlainan dengan sekarang. Tetapi ada keinginan tersendiri betapa apa yang pernah saya tulis itu harus sampai kepada publik, kalau memang saya menganggap tulisan itu bisa memberikan perspektif.

PenutupApa yang saya tuliskan ini tentulah belumlah semuanya. Apalagi di tengah kesibukan sekarang, tentu semakin sulit bagi saya meluangkan waktu untuk menulis. Harus ada banyak penyiasatan atas waktu. Dulu, apabila saya bosan atas sesuatu, biasanya saya pergi ke tiga tempat, yakni toko buku, pasar dan laut. Dengan mengunjungi toko buku, saya merasa menjadi orang paling bodoh di dunia. Kalau ke pasar dan menemukan kuli, ibu-ibu penjual sayur, atau bau busuk, saya merasa sebagai orang paling malas di dunia. Di pinggir pantai saya merasa menjadi orang paling kecil di tepian galaksi. Biasanya, saya kembali segar, lantas berusaha untuk tidak malas.

Dari menulis, saya mendapatkan banyak manfaat. Seringkali orang merasa saya orang pintar. Padahal, banyak orang yang lebih pintar dan cerdas yang saya temui dan kagumi. Saya justru merasa, kepintaran bukan ukuran untuk menjadi seorang penulis. Yang paling penting barangkali empati atau keinginan merasakan apa yang diderita atau dipikirkan atau dirasakan orang lain, seperti orang lain itu memikirkan atau merasakannya. Kalau sisi humanisme hilang dalam diri saya, barangkali saya tidaklah akan bisa menjadi seorang penulis.

Saya memang mendapatkan uang, “ketenaran” dan segala macam hal lainnya dengan menulis. Banyak yang tertipu dengan usia saya, pendidikan saya (saya baru menyelesaikan S-1 Jurusan Ilmu Sejarah UI), sosok saya (saya tidak pakai kacamata dan agak gaul, bukan ada di perpustakaan penuh debu), orangtua saya (saya bukan anak jenderal, pengusaha besar atau pejabat negara, karena ayah-ibu saya hanyalah petani dan pensiunan pegawai negeri sipil golongan rendah), atau kondisi keuangan saya (sekarang memang sudah lebih mapan, punya mobil, tiga kantor, tetapi saya tinggal di rumah mertua di lingkungan yang “buruk”: banyak preman, kyai, etnis, juga ada banyak penjual narkoba, pelacur, dll, di kawasan Jalan Krukut, Jakarta Kota), dan lain-lain.

Sebagai pemompa semangat, dengan menulis katakanlah 350 artikel saja selama 5 tahun ini, lalu rata-rata artikel itu dihargai Rp. 500.000,- (ada yang lebih ada yang kurang), berarti saya sudah mengumpulkan uang kira-kira sebesar Rp. 175.000.000, – atau Rp. 35.000.000,- setahun. Kalau ukurannya uang, sebetulnya menulis artikel hanyalah perantara kepada kegiatan lain, seperti seminar, pelatihan, dan lain-lainnya yang uangnya lebih besar, selain tentunya tawaran gaji yang lebih tinggi dari lembaga-lembaga yang menginginkan saya bekerja di sana. Silakan tebak, berapa saya punya penghasilan.

Menjadi penulis menurut saya bukan berarti harus menjadi miskin. Tetapi tetap saja menjadi sebuah kesalahan pikiran kalau tujuan menjadi penulis adalah mencari kekayaan atau ketenaran. Pengalaman menunjukkan, ketika saya ingin bersembunyi dan menyendiri, tiba-tiba ada saja yang kenal dan harus diajak bicara. Kehadiran televisi sebetulnya bisa menggerus kemampuan seorang penulis, kalau penulis itu yang seharusnya menulis, tetapi harus hadir di televisi menjadi seorang pembicara atau komentator.

Lebih dari segalanya, kebutuhan penulis di Indonesia masihlah besar. Selain itu, nasib penulis Indonesia juga kurang beruntung. Jangankan untuk mentraktir orang lain, bahkan untuk makan layak saja tidaklah cukup. Saya punya sejumlah teman yang duluan terkenal, tetapi hidupnya pas-pasan karena hanya mengandalkan tulisan. Karena media massa juga punya keterbatasan, misalnya paling tinggi memuat dua tulisan dari satu penulis dalam sebulan, kehidupan penulis bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Untuk makan saja tidak cukup, apalagi untuk membeli buku, bepergian, meneliti, atau ketemu dengan orang lain mendiskusikan sesuatu.

Bagi saya, nasib penulis haruslah diperbaiki. Sekarang saya mencoba membangun sebuah organisasi yang menaungi penulis, bersama Andrinof Chaniago, Jeffrie Geovanie, Saldi Isra, dan lain-lainnya. Mungkin namanya Indonesian Writer’s Institute (IWI). Gagasan ini sudah lama saya perjuangkan dan peminatnya tidak sedikit. Kehadiran organisasi ini tinggal menunggu waktu, paling lama tahun depan. Dengan cara itu, mudah-mudahan ada banyak jalan untuk menghasilkan para penulis, juga memperbaiki kehidupan (ekonomi) para penulis, tanpa mereka harus kehilangan jati diri, cita-cita, dan idealismenya

3 comments on “Teknik Menulis Artikel Ilmiah (3)

  1. dedy tisna amijaya mengatakan:

    salam hangat. makasih sudah membantu dalam menyediakan literatur tehnik menulis artikel. mudah2an bisa membantu dalam gaya penulisan saya nantinya.

  2. Sulwan Dase mengatakan:

    Sebuah artikel yg sangat bagus dan membangun

    Sulwan-Makassar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s