Mengapa Saya Menulis Fiksi-Islam?

Oleh: Ekky Malaky

Mengapa saya menulis? Dan lebih tepatnya lagi: Mengapa saya menulis fiksi Islami? Lupakan soal niat dan semangat “berdakwah dengan pena”, “Mencari Ridho Ilahi” dan “Menciptakan bacaan alternatif yang sehat dan aman”, atau tujuan mulia lainnya yang sudah seharusnya ada pada setiap penulis yang mengaku karyanya bernafaskan Islami, maka ada dua alasan utama yang lainnya.

Pertama, soal tulisan yang menjadi media komunikasi. Semacam penyambung fikiran kita. Kedua, soal yang “agak heroistis”, iaitu agar boleh meninggalkan jejak dan boleh dikenang dan tulisannya bermanfaat bagi generasi berikutnya—terhitung amal jariyah.

Mari kita ungkapkan satu persatu. Pertama, tulisan boleh menjadi media komunikasi. Tulisan boleh mengkomunikasikan apa-apa yang ada di fikiran dan hati kita.

Saya menulis kerana ada yang menggoda, dan membuat gelisah hati dan fikiran saya—dan kemudian menggerakkan saya untuk menuliskannya, merakamnya dalam bentuk tulisan. Saat saya melihat melalui kehidupan, yang terbentang di sekitar, tentu ada hal-hal yang membuat saya resah dan gelisah, membuat saya ingin menganalisanya, dan mengulasnya.

Dengan menulis, saya boleh mencurahkan segala isi hati, dan itu sangat melegakan hati, seolah mengeluarkan beban dalam dada. Tetapi tidak berhenti sampai di situ, lalu saya ingin memberitahukan atau menyampaikannya kepada sebanyak mungkin orang. Dan tulisan sangat berpotensi untuk menyebarkan fikiran-fikiran kita. Kalau dimuat di majalah yang jumlah pembaca10 ribu orang saja, maka akan dibaca oleh sekurang-kurangnya adalah 5 ribu orang, itu belum termasuk belum yang menumpang baca. Kalau dalam bentuk buku, dicetak 3 ribu naskah, dan laku tentunya, bayangkan berapa banyak orang yang membacanya (termasuk yang meminjam, bukan membeli).

Jadi, tulisan boleh menjadi pengantar pesan-pesan kita, boleh mengkomunikasikan fikiran-fikiran kita. Menurut istilah Soedjatmoko, tokoh intelektual yang pernah menjadi rektor University of United Nation di Tokyo: “Ide punya kaki”.

Kedua, saya ingin membuat “jejak”. Apa maksudnya?

Begini. Masih ingat dengan filem Troy? Tokoh utamanya, Achilles, menyampaikan pesan penting di filem itu. Dia memberi tahu penonton alasannya berperang—di filem itu digambarkan dia adalah tentara bayaran yang setia kepada benda dan tidak kepada sebuah pemerintahan atau cita-cita ideal. Tujuannya berperang bukan untuk kegagahan, nasionalisme, dan sebenarnya juga bukan untuk wang. Tapi untuk dikenang. “Aku ingin berabad-abad setelah aku hidup, ada yang bercerita `saat itu adalah masa ketika Achiles masih hidup’,” katanya.

Satu lagi. Tentu kita semua tahu siapa Raden Ajeng Kartini. Mengapa namanya begitu disebut-sebut dibandingkan dengan, misalnya Dewi Sartika atau Christina Martha Tidak tahu? Jawapannya: Kerana Kartini menulis, dan dengan begitu meninggalkan jejak. Jejaknya tidak hanya membuat kita yang hidup di masa jauh dari hidup Kartini tahu tentang fikiran-fikirannya, tetapi juga boleh menyingkap bagaimana jiwa zaman (Zeitgeist) saat itu. Dan bahkan boleh memberi manfaat, kerana tulisan Kartini dianalisa dan menghasilkan banyak tulisan bahkan karya ilmiah yang kemudian boleh menyumbangkan bagi dunia ilmu pengetahuan bahkan filsafat.

Demikian pula dengan Anne Frank, seorang Yahudi yang menulis diari saat kaumnya diburu Hitler di tahun 1940an. Atau seorang Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie, lepas dari ideologi dan fikiran mereka. Padahal Anne, Wahib, dan Gie sebenarnya adalah orang biasa-biasa saja dalam “sejarah orang besar”, tapi tulisannya membuat dirinya dikenang, dan jejaknya bermanfaat bagi orang yang hidup di zaman yang berbeda.

Demikian pula dengan para ulama dan sasterawan di masa dahulu. Mereka menuliskan fikirannya. Dan hingga sekarang kita boleh menikmati karya-karya, sebut saja, Rumi, Sa’di, Ibnu Thufail, Amir Hamzah, atau Iqbal.

Lalu, mengapa fiksi? Well, sebenarnya ini adalah masalah pilihan. Mungkin kerana fiksi cenderung lebih menghibur dan lebih membekas dalam jiwa pembacanya dibandingkan non-fiksi—kecuali karya non-fiksi yang benar-benar memukau dan mencerahkan. Kerana karya fiksi yang baik adalah karya yang boleh mengajak pembacanya untuk masuk ke dalam dunia imajinasi yang diciptakannya dan hanyut terbawa ke dalam keindahan kata-kata dan dengan halus pembaca akan menyerap pesan-pesan moral pengarangnya.

Terakhir, mengapa Islami? Pasti banyak diskusi panjang soal ini. Bahkan mungkin perlu dibuat buku baru soal ini. Tapi izinkan saya menghadirkan sebuah teori dari salah seorang budayawan muslim pintar yang pernah dilahirkan di Indonesia. Namanya, Kuntowijoyo. Sudah menjadi Allahyarham. Sejarahwan dari Yogyakarya ini menyatakan bahawa seharusnya setiap nafas seorang muslim adalah nilai-nilai Islam. Mengapa demikian? Pak Kunto ini menyajikan teori Internalization dan externalization.

Internalization adalah proses memasukkan semua nilai-nilai dan ajaran Islam ke dalam diri seorang muslim. Dengan begitu, Islam inheren alias menyatu dalam dirinya. Setiap langkah, setiap nafas selalu diawali dengan pertanyaan (yang automatik dan bahkan tak terucapkan): ” Apakah Tuhan akan Ridho dengan langkahku ini?”. Tentu ada masanya kita melakukan salah dan dosa, tapi dengan cepat dia akan menyedarinya dan bertaubat. Kerana, manusia adalah tempatnya salah, tapi bagaimana kita boleh bertaubat dan berusaha untuk tidak melakukannya lagi, itu yang lebih penting.

Lantas, setelah itu, ada usaha externalization. Iaitu proses pengeluaran segala nilai-nilai itu dalam penerapan kesehariannya. Kedekatannya dirinya dengan nilai-nilai Islam membuatnya bertindak dan melangkah, diperjuangkan, untuk selalu berada dalam orbit-Nya. Dengan begitu, segala tindakannya tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. Dan, tentu saja, tidak harus dengan terang-terangan ada kata-kata “kunci” seperti “taubat”, “jilbab”, “istighfar”, “Islam”, “jihad”, dan sebagainya.

Dan Pak Kunto menghidangkan kita contoh menariknya, iaitu cerpen-cerpen dan novel-novelnya sendiri. Dengan adanya teori Internalization- externalizationd ari Pak Kunto ini, kita menjadi tahu batasan-batasan apa itu “islami”. Kalau teori itu benar-benar diterapkan, maka definisi sastera Islami tergantung dari pemahaman seseorang tentang Islam. Man arofa nafsahu, arofa robbahu, barang siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal tuhannya. Dan ada hadith yang menyuruh kita untuk berfatwa kepada hati nurani.

Lantas, apakah definisinya begitu longgar, mengingat batasannya tergantung penafsiran masing-masing? Dalam satu sisi, ia benar. Ada banyak pemahaman, aliran, mazhab dalam Islam. Tapi ada hal-hal yang sifatnya sudah jelas dan pasti dan disepakati majority umat. Ada nilai-nilai yang begitu kita baca, kita langsung boleh memahaminya, tanpa harus ditafsirkan dengan bermacam-macam teori. Misalnya, dari sisi syariat ada larangan berzina, minum-minuman keras, berjudi, hal-hal mistik, dan banyak lagi. Atau dalam etika (akhlaq) ada nilai-nilai keadilan, kejujuran, kebersamaan, keberanian. Masalahnya ada pada: “seberapa dalam anda menginternalisasika n nilai-nilai itu, dan seberapa besar anda mengeksternalisasik an nilai-nilai itu”.

Itu soal “islami”nya. Bagaimana dengan “fiksi” atau “sastera”-nya? Ingat, fungsi sastera adalah menghibur sekaligus mendidik. Nah, keterampilan kita, termasuk faktor yang membuat seorang penulis boleh meramu dan meracik sebuah cerita dengan konsep Islami tadi dengan indah dan cantik—dan bukan bernuansa ceramah, khutbah, atau dakwah. Bahkan, menurut sebuah teori, semakin lihai kita menyelipkan pesan moral, semakin bagus sebuah karya. Kerana, semakin lebar pembacanya, tidak lagi oleh orang-orang yang mengenal Islam.

Satu lagi otokritik buat fiksi Islami. Dalam Islam yang saya tahu, Tuhan lebih menyukai kualiti daripada kuantiti. Ada ayat yang menyatakan bahawa Allah menciptakan hidup dan mati adalah untuk menguju umatnya agar diketahui di antara hambanya yang berbuat terbaik (ahsanu `amala). Tuhan lebih menekankan ahsanu `amala (kualiti) daripada aksaru `amala (kuantiti, amal terbanyak). Bahkan ada hadith yang bilang bahawa umat ini seperti buih, banyak tapi tak bererti.

Boleh saja kita menulis sangat produktif. Misalnya Seno Gumira Ajidarma atau Putu Wijaya boleh sekaligus menyeimbangkan kualiti dan kuantiti. Dalam tradisi FLP, ada Pipiet Senja, Fahri Asiza, Gola Gong, Asma Nadia, yang boleh menulis sekaligus ahsan dan aktsar. Tapi kalau belum mampu, sebaiknya tidak tergoda oleh para (sebahagian) penerbit yang menerapkan sistem (mengutip Helvy Tiana Rosa) “sastera kejar tayang”.

Kerana, kita memerlukan juga tulisan yang benar-benar dalam, dan mencuri perhatian dunia sastera Indonesia, bahkan dunia. Dan menulis karya masterpiece seperti itu tidak boleh dilakukan seperti membalikkan telapak tangan. Memerlukan waktu dan ketelitian serta keterampilan lebih.

Dan ingat: tulisan adalah jejak, portofolio. You are what you write. Orang-orang akan menilai anda dari jejak yang anda tinggalkan. Misalnya, novel Sitti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat, atau Romeo dan Juliet, dikenang sepanjang masa, dan penulisnya berhasil meninggalkan jejak.

Jadi, mengapa saya menulis fiksi Islami? Kenapa ya? Ya, kerana panggilan hati, barangkali? Atau kerana memang menulis adalah satu dari sedikit yang saya boleh? Lho kok ditanya lagi? Wallahua’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s