Jargon Menulis

Apakah setelah event yang satu ini saya (dan para peserta lainnya) bisa melahirkan satu cerpen bagus? Hmm… saya optimistis. Paling gak, karena ada beberapa ilmu baru yang saya dapat. Saya lebih suka menyebutnya jargon. Karena pengertiannya sangat memotivasi. Di dalam jargon ini tersirat masalah teknis dan non teknis.

1.“Dengan latar (setting) yang kuat penulis tidak akan kehabisan ide”.
Maka perkuatlah latar. Di dalam setting yang kuat, penulis akan dengan mudah memunculkan tokoh yang bermacam-macam. Penulis juga tidak kesulitan menggali konflik, menentukan alur cerita dan ending yang paling menarik.

2.“Penulis harus mengabdi pada tokoh cerita”.
Agak mirip dengan prinsip yang dipegang Stephen King. Dalam buku On Writing, jelas-jelas King lebih menyarankan penulisan cerpen yang tidak didahului dengan outline. Menurut King, menulis fiksi seperti menggali benda bersejarah. Penulis tidak tahu apa yang ia akan temukan setelah menggali satu lapisan. Apa pula yang akan ia temukan lagi setelah menggali lebih dalam. Begitulah seterusnya hingga cerita selesai. Sementara, menurut Kang Maman, masih banyak sekali penulis yang belum bisa mengabdi kepada tokoh. Alur cerita ditentukan jauh-jauh hari. Akibatnya, karakter tokoh sangat dipaksakan. Nasib akhirnya pun kadangkala terkesan aneh. Lebih celaka lagi, penulis tidak mampu menyelimuti idiologi yang melatari cerita. Padahal, cerita pendek yang baik adalah cerita yang tidak terkesan menggurui.

3.“Segala sesuatu yang ada di dalam teks, mulai dari huruf pertama hingga titik terakhir, harus memiliki makna”.
Cerpen memang karya individual. Pemaknaannya sangat subyektif, sangat tergantung pada background, selera, bahkan style seseorang. Tapi,… biar bagaimanapun si penulis tidak asal tulis. Ia tidak sembarang memilih kata, nama tokoh, setting, konflik dsb. Semua bisa menyiratkan pesan yang utuh, yang tidak kontradiktif dan tidak janggal.

Repot memang. Jargon-jargon ini secara tidak langsung menegaskan bahwa sebuah cerpen yang bagus tidak pernah selesai dalam sekali tulis. Penulis perlu berulang-ulang membaca dan memperbaikinya. Mungkin saja alurnya akan berubah, tokohnya ganti, settingnya pindah, konflik-nya lain, ending-nya berbeda dari sebelumnya dsb.

Perbaikan-perbaikan tersebut bukan sesuatu yang tabu. Penulis perlu menyadari bahwa meskipun cerpen ibarat anak kandung sendiri, tetap ada hak orang lain di dalamnya. Apalagi karena setiap cerpen tidak pernah lepas dari konteks sosial. Di dalamnya terkandung nilai, pesan, idiologi tertentu. Wajar bila orang lain (pembaca) mengapresiasi dan mengusulkan sesuatu yang mungkin saja sangat berlainan dengan penulis.

Ada satu jargon lagi yang menurut saya sangat memotivasi seseorang untuk menulis (menuntaskan) cerpen. Jangan pernah putus asa untuk menulis, membaca, memperbaiki dan menerbitkan cerpen. Sebab, kata Kang Maman, di fikiran setiap orang pasti ada peristiwa-peristiwa yang dapat dijadikan sebuah cerita.

Dengan begini, penulis harus meyakini bahwa menulis bukan sekadar hobi. Menulis juga bukan perkara mata pencaharian. Sejatinya, menulis adalah tugas dan kewajiban seseorang sebagai makhluk Tuhan. Berdosalah seseorang yang memiliki ilmu, nilai, pengalaman, pengetahuan, keyakinan dsb tapi tidak membaginya kepada orang lain. Dengan tulisan, seseorang sebetulnya sedang berupaya memberi pencerahan akan sesuatu yang ia yakini. Maka, tulislah agar pembaca tahu kebenaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s