Ada Apa dengan Rasa Malas?

Hal terbesar di dunia ini bukanlah dimana Anda berdiri, melainkan kemana Anda akan pergi.
GOETHE

Sebuah pepatah lama, sengaja saya pilih untuk memulai tulisan ini. “Siapa cepat dia dapat.” Di mana pun, kapan pun, dan siapa pun pasti tahu bahwa persaingan makin ketat terjadi di segala sisi kehidupan kita. Iklim kompe-tisi menuntut kita selalu fight dan survive. Jika tidak, risiko yang mungkin menimpa kita adalah tersingkir dan menjadi pecundang.

Sebaiknya Anda simak percakapan berikut ini. “Maya, tolong selesaikan proposal training untuk bulan depan. Secepatnya, ya?” tutur Sang Bos kepada sekretarisnya.

“Pak, bagaimana kalau besok saja, Pak? Masalahnya, proposal untuk bulan ini saja belum selesai.”

“Loh, bukankah seharusnya itu sudah selesai sejak minggu kemarin?” tanya Sang Bos.

Sekretarisnya cengengesan. “Maaf, Pak?”

Karakter apa yang dapat Anda lihat dalam diri sekretaris Sang Bos? Seorang sekretaris yang malas, bukan? Siapa pun, langsung akan menempelkan image malas pada sekretaris itu. Padahal, boleh jadi sekretaris itu mengalami peristiwa mengenaskan, sehingga ia tidak bisa menyelesaikan tugasnya tepat pada waktunya. Akibatnya apa? Bosnya jadi kurang respek. Kenapa? Karena semua perusahaan pasti mengharapkan loyalitas dan profesionalitas karyawannya.

Hasilnya, bisa saja, akan berbeda seandainya sekretaris Sang Bos itu menjawab, “Minggu kemarin ada keluarga saya kena musibah, pak. Tapi saya usahakan untuk menyelesaikan proposal itu secepatnya.” Tentu saja, Sang Bos tidak akan menuding sekretarisnya itu pemalas, jika jawaban seperti itu yang dilontarkan oleh sekretarisnya. Jadi, intinya adalah Sang Bos itu anti pati terhadap sikap malas sekretarisnya. Bahkan, kita juga sering ‘kurang respek’ terhadap orang pemalas.

Mengapa seseorang menjadi pemalas? Bambang Santoso seorang karyawan Bank Indonesia Bandung, saat meng-ikuti Team Building Program pada 1-3 November 2003 di Bumi Perkemahan Ciwidey Bandung menyatakan,  “Malas itu dipicu oleh kebiasaan memandang remeh sesuatu, termasuk pekerjaan. Ada orang yang terlalu menggampangkan pekerjaan. Akibatnya, mereka menunda-nunda pekerjaannya. Pada hakikatnya, memandang remeh pekerjaan itulah yang menumbuhkan rasa malas.”

Lain lagi dengan Dewina Maharani P, karayawan PT LG EDI. Peserta Value Development Program ini berpendapat bahwa, “Kebiasaan banyak makan dan tidur terlalu lama. Lapar sedikit makan, selesai makan me-nguap. Begitu perut keroncongan, maunya nyari warung aja. Sudah itu, ya ngantuk. Jadi, kebi-asaan buruk itu harus dihindarkan. Jika tidak, Anda akan menjadi pemalas seumur hidup.”

Anda juga sebaiknya memerhatikan pendapat peserta Mentality Building Program pada 10-12 September 2002 di Cidahu Kabupaten Sukabumi. Mayasari L. Pesik, karyawan Jakarta Convention Center ini mengungkapkan, “Orang malas karena terlalu memburu kesenangan hidup. Sebagian besar waktunya di-manfaatkan hanya untuk bersenang-senang. Kesana kemari menghabiskan waktu. Nongkrong di mal betah sampai berjam-jam. Sepertinya tak memiliki beban hidup sama sekali.”

Nah, bagaimana dengan Anda? Saya yakin, Anda punya pendapat sendiri tentang malas. Enda, seorang blogger yang mem-posting pengakuannya bahwa dirinya seorang pemalas pada 11 Desember 2004, menyatakan bahwa, Banyak hal yang bisa dilakukan di kantor dan tetap terlihat seperti sedang bekerja. Ada ruang pantry tempat yang pas berlama membuat kopi sambil ngobrol ngalor-ngidul bersama teman sekantor yang pemalas. Ada meeting berjam-jam di mana kita hanya perlu duduk manis. Serta berlama-lama di depan komputer, dikira sibuk download file buat referensi perusahaan, ternyata sedang sibuk meng-forward e-mail lucu.

Begitulah, sang pemalas bisa memuaskan ‘jin’ malasnya di mana saja dan kapan saja. Meski, menurut Enda, pemalas tidak selamanya merugikan. Bahkan, orang bisa memikirkan membuat mobil karena malas naik sepeda apalagi jalan kaki. Microsoft Excel dibuat untuk memba-hagiakan orang-orang yang malas berhitung dan meng-nakan sempoa. Tapi, yang jelas, salah satu kehebatan pemalas adalah jago membuang-buang waktu.

Sekarang, cobalah sejenak tafakkur. Bertanya pada hati nurani. Benarkah Anda ingin sukses? Masihkah Anda berniat untuk hidup bahagia. Bahagia yang tidak hanya di dunia, tapi sekaligus di akhirat kelak? Mungkin pertanyaan ini terkesan klise. Tapi, ini bukan basa-basi. Setiap orang pasti ingin sukses. Tidak peduli apa pun latar belakang pendidikan, ekonomi, maupun status sosial kita, pasti kita semua berharap untuk sukses.

Namun, sebelum kita melompat lebih jauh, sebaiknya kita ‘gunting’ dulu kebiasaan malas dalam diri kita. Dipangkas serapi mungkin. Kalau bisa, cukur habis. Cara-nya? Gampang, kok. Ini dia jurus dahsyat untuk ‘menghabisi’ rasa malas dalam diri kita.

(1)Jika pintu masuk yang digunakan virus malas ke dalam tubuh kita adalah suka memandang remeh sesuatu sebagaiman pendapat Bambang Santoso, maka gunakanlah jurus pertama: jangan suka memandang remeh sesuatu. Boleh saja Anda merasa ahli terhadap satu persoalan, tapi Anda naif jika memandang remeh sesuatu itu. Apapun pekerjaan Anda, betapapun Anda merasa peker-jaan itu enteng, Anda harus tetap fokus. Jangan sampai waktu Anda yang tersita selama satu minggu, hanya untuk menangani satu pekerjaan yang bisa Anda selesaikan dalam satu hari.

(2)Jika pintu masuk yang digunakan virus malas ke dalam tubuh kita adalah banyak makan dan tidur terlalu lama, seperti penuturan Dewina Maharani, maka gunakanlah jurus kedua: kurangi makan dan tidur. Makan dan tidurlah secara proporsional. Sesuai kebutuhan. Jika tidak, selain Anda bakal menghadapi ancaman penyakit malas, Anda juga bisa terjangkit obesitas. Jadi, bergeraklah! Jangan berpangku tangan. Apalagi memanjangkan angan-angan. Kita hanya punya waktu 24 jam, amat sayang jika kita lewati dengan sesuatu yang sia-sia. Andrew Ho, seorang motivator dan pengusaha sukses berpesan kepada kita, “Sukses adalah pilihan hidup, dan pilihan itu ada di tangan Anda.” So, tunggu apa lagi?

(3)Jika pintu masuk yang digunakan virus malas ke dalam tubuh kita adalah terlalu memburu ke-senangan duniawi, seperti yang ditunjukkan oleh Mayasari L. Pesik, sebaiknya Anda gunakan jurus ketiga: hidup ini terlalu berharga untuk disia-siakan. Ya, setiap kita hanya mendapat satu kesempatan untuk hidup. Jadi, mengapa harus disia-siakan? Suatu ketika, Charles de Montesquieu mengingatkan kita, “Kebahagiaan yang sesungguhnya menjadikan seseorang peka dan baik hati. Dan kepekaan itu sangat berharga dan bermakna tidak hanya untuk dirinya sendiri.”

Tunggu apa lagi? Buang rasa malas yang bertahta dalam benak kita, SEGERA! SEKARANG juga. Jangan sampai, karena kita piara rasa malas itu, peluang yang di depan mata disambar orang lain.

Ayo, habisi rasa malas itu?

Salam dahsyat,
khrisna pabichara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s