Membuat Buku yang Bergizi

Penulis: Hernowo

Salam jumpa!

Senang sekali dapat terus bertemu dengan Anda di Mizan OnLine. Meskipun pertemuan kita hanya lewat jembatan bernama kata-kata, namun saya harus bersyukur karena saya diberi kesempatan untuk terus berlatih menulis. Semoga, saya sungguh ingin berharap, pembaca juga mendapat manfaat dari tulisan-tulisan saya.

Mulai minggu depan, insya Allah, saya akan membuat tulisan berseri di rubrik “Plong” dengan topik sebagaimana judul tulisan saya ini. Saya ingin mengajak para pembaca untuk melakukan eksplorasi bersama saya ke dunia buku, tepatnya dunia yang di dalamnya kita dapat menikmati bagaimana seseorang membuat buku.

Saya akan mencoba menjadi pemandu pembaca dalam menjelajahi hampir semua corak buku yang pernah dibuat oleh para penulis andal. Tentu, kata “hampir semua” itu tidak lantas merujuk ke seluruh buku yang ada di dunia. Saya akan memilihkan buku-buku yang, menurut penilaian saya, memberikan hal-hal baru.

Titik tekan saya dalam memilih buku-buku yang memberikan hal-hal baru itu terletak pada bagaimana seorang penulis menyajikan gagasannya, dan bagaimana penyajian itu dapat memberikan suasana lain saat seorang pembaca masuk ke dalam dunia buku yang diciptakan penulis tersebut.

Apa yang saya rumuskan itu tentulah masih abstrak. Namun, saya akan mencoba menunjukkannya pada serial tulisan saya yang berkaitan dengan “bagaimana membuat buku yang bergizi tinggi”. Pada tahap awal, kita akan belajar kepada penulis-penulis sukses, seperti Spencer Johnson, Jalaluddin Rakhmat, J.K. Rowling, Helen Fielding dan masih banyak penulis lain, yang menuangkan gagasannya secara apik dan tertata.

Selanjutnya, setelah kita memiliki sejumlah pengetahuan tentang corak buku yang disajikan dengan sangat kaya dan berbeda, kita akan masuk ke pengenalan komponen buku secara sangat tajam. Dalam buku Mengikat Makna, saya telah menunjukkan secara selintas anatomi buku. Nah, di dalam serial tulisan saya kali ini, saya akan mempreteli (membongkar secara detail dan satu per satu) setiap komponen dan kemudian mengenali apa fungsi tiap komponen itu dalam “membunyikan” buku.

Setelah semuanya itu, saya akan menunjukkan kepada pembaca bagaimana kita dapat mengelola energi kreatif yang ada di dalam diri kita untuk menciptakan judul-judul yang “menggigit”. Atau, dalam konteks lain, misalnya, adalah bagaimana kita memanfaatkan benar potensi kita untuk memadukan bahasa rupa (visual) dan bahasa kata (tekstual) secara melejit dan menarik.

Pembaca yang budiman, membuat buku memang dapat mengasyikkan. Bagi saya, membuat buku bagaikan melakukan pemotretan atas kehidupan diri saya, dan kemudian hasil pemotretan itu saya petakan secara apik di sebuah album. Menata foto yang diletakkan secara miring, atau memberikan komentar foto yang mengesankan, hampir persis keadaannya saat saya merakit gagasan orang lain ke dalam buku-buku saya.

Tentu, saya akan berusaha sekuat daya saya untuk tidak terjebak pada pemaparan yang pelik, rumit, dan cepat membuat para pembaca bosan. Saya akan mencoba memberikan paradigma baru dalam membuat buku. Saya akan mencoba menyajikan tulisan-tulisan saya sependek mungkin dan bersifat “how to” (bagaimana melakukan sesuatu secara praktis). Doakan saja ya supaya saya dapat memenuhi syarat-syarat yang telah saya rumuskan tersebut.

Yang lain, saya ingin proses saya menyajikan serial tulisan ini berlangsung interaktif. Artinya, saya mengajak para pembaca untuk memberikan respons dan bertanya tentang apa saja. Anda dapat langsung mengirim e-mail ke info@mizan.com atau bisa langsung juga mengirimkannya kepada saya. Saya akan senang sekali apabila proses interaksi ini terjadi. Sebab hanya dengan bertukar pengalaman secara aktiflah, sebuah gagasan atau perumusan itu dapat terus direvisi dan disajikan dengan lebih baik.

Kemudian, selain itu pula, saya juga akan membangkitkan minat para pembaca untuk punya kemauan, terutama, dan kemampuan menulis buku. Tentu, saya tidak bisa mengarahkan agar pembaca membuat buku ini dan buku itu. Pilihan membuat buku dalam konteks ini atau konteks itu, saya serahkan sepenuhnya kepada pembaca. Saya akan menunjukkan saja, di dalam serial tulisan saya ini, bahwa potensi membuat buku itu sebenarnya sudah tertanam di dalam diri pembaca.

Nah, akhirnya sampailah saya pada penjelasan soal kenapa harus menggunakan kata “bergizi” dan ditambah dengan kata “tinggi” lagi. Kan sudah cukup kalau buku itu “bergizi” dan tidak usah gizi yang dikandungnya tinggi? Benar sekali. Buku yang bergizi saja sudah cukup. Buku yang bergizi sudah pasti akan membuat seorang pembaca buku mampu menyerap gizi-ruhani yang luar biasa. Kenapa harus ditambahi kata “tinggi”?

Pembaca, saya menambahi kata “tinggi” agar di dalam menuliskan serial tulisan ini ada semacam tantangan. Saya memang belum punya konsep tentang “bergizi tinggi” itu seperti apa. Atau bagaimana merumuskan secara objektif dan bisa disetujui oleh hampir semua kalangan tentang buku yang miliki “gizi tinggi” itu. Sungguh, pada saat ini, itu belum terpikirkan oleh saya.

Saya, sekali lagi, hanya ingin ada tantangan. Soal buku yang bergizi, saya kira sudah saya jelaskan di dalam dua buku saya, Mengikat Makna dan Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza. Saya merumuskan buku-buku yang memiliki gizi adalah buku-buku yang mampu menggerakkan pikiran pembacanya. Dan proses penggerakan pikiran yang dapat dilakukan oleh sebuah buku, ada kemungkinan, hanya lewat susunan kata yang memang memenuhi kaidah penalaran, diksi yang baik, serta juga koherensi dan komposisi yang yahud pula, yang disajikan oleh sebuah buku.

Lantas, kira-kira bagaimana rumusan soal buku yang bergizi tinggi? Semoga saja, serial tulisan saya nanti dapat memecahkan soal ini. Selamat menikmati, dan senang dapat membantu Anda.

3 comments on “Membuat Buku yang Bergizi

  1. hidayati mengatakan:

    Ass. Bang Hernowo salam menngikat makna. Bagaimana supaya sy bisa melejitkan potensi menulis mengingat say hanya suka dunia menulis terutama cerpen /cerita anak. ADa saran bang?

  2. Ahmad mengatakan:

    Alhamdulillah, saya akhirnya menemukan arti sebuah karya yang dapat diapresiasikan ke dalam suatu buku yang sangat bermakna. Andaikan saya mengirim sebuah draft buku yang tanpa ber-referensi, adakah draft buku tersebut dapat dijadikan untuk menjadi buku? Pertanyaan saya ini mengingat saya sudah menuliskan apa pun yang keluar dari lubuk hati, bukan berdasarkan rujukan dari seorang penulis. Selain al-Qur’an, saya tidak, bahkan hadits pun sama sekali tidak dijadikan referensi, mencantumkan rujukan dari sumber lain.

    Saya menjadi bingung ketika tulisan itu sudah dibuat sampai lima bab. Dari kata pengantar sampai penutup. Akankah bahwa sebuah tulisan dipandang bukan sebuah karya akal apabila mendudukkan hati sebagai pijakannya? Bagaimana menurut bang Hernonowo bila ada kejadian seperti itu dalam menuliskan sesuatu pesan yang datangnya dari dalam hati? Adakah persyaratan bahwa menulis sebuah karya sama dengan menulis sebuah pesan dari dalam hati? Jika sebuah karya harus dari dalam akal, adakah pesan dari dalam hati bukan sebuah karya. Padahal, karya manusia tidak seberapa dibandingkan dengan karya Allah!

    Andaikan menulis harus dari proses berpikir dengan akal, maka adakah sebuah tulisan ‘luncuran’ dari dalam hati tidak boleh dipublikasikan? Saya sendiri bingung karena hampir setiap hari saya menulis pesan ‘luncuran’ tersebut. Alhamdulillah, saya akhirnya memiliki blog sendiri untuk menulis seluruh pesan ‘luncuran’ dari dalam hati. Blogku itu diberi judul Agama, Hati dan Ilahi. Sedangkan, tulisan yang sudah tersrtuktur layaknya sebuah buku, judulnya adalah Saatnya Menuju Allah: Jadilah Manusia Sejati.

    Mohon kiranya Bang Hernowo dapat memberi penjelasan atas pertanyaan yang saya ajukan. Pertanyaan saya diharapkan dapat memberi wacana bagi saya untuk meluncurkan pesan-pesan keislaman yang dapat disuguhkan kepada umat Islam di mana saja berada. Pesan-pesan itu demikian deras sampai tidak ada tempat untuk menampungnya selain kertas-kertas yang saya miliki. Akankah saya harus mengalami perjuangan lebih keras sampai pesan-pesan itu dapat dinikmati oleh mereka yang haus akan nilai-nilai kebenaran Allah? Demikian, saya sampaikan terima kasih sebelumnya.

  3. munahnugroho mengatakan:

    makasih ya ats infonya🙂
    cepet-cepet dicoba deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s