Zakat Itu Solusi

Oleh Lufti Avianto

*) Ditulis untuk Dompet Dhuafa Republika

Suatu pagi di sebuah komplek di kawasan Tangerang Selatan. Seperti biasa, kaum ibu sibuk berbelanja di tukang sayur. Rutinitas pagi itu, diselingi dengan aneka topik pembicaraan, mulai dari gosip selebritas, harga sembako yang meroket sampai membicarakan masalah bangsa.

Seorang ibu muda mengeluh, “Aduh, kok kayaknya negeri ini banyak masalah yang nggak pernah selesai, ya?”

“Iya tuh. Jadi ngeri. Berobat mahal. Kuliah mahal. Ujung-ujungnya, jadi pengangguran. Apa-apa susah dan mahal sekarang,” ibu yang lain menyahut.

“Apalagi si Udin juga mulai naikin harga sayur nih,” seorang ibu lainnya menimpali sambil melirik sang penjual sayur.

“Yaah, mau bagaimana lagi. Dari sononya juga udah mahal, bu,” Udin tersenyum kecut.

***

INILAH potret keseharian kita. Keluhan mengenai persoalan masyarakat seperti tak ada habisnya. Karena miskin, rakyat sulit mendapat pendidikan yang berkualitas. Karena miskin pula, bila sakit, mereka tak juga bisa mendapatkan pelayanan kesehatan murah, apalagi gratis. Kendati begitu, bukan berarti upaya pemerintah meminimalisasi persoalan ini tidak ada. Bukan, hanya saja belum efektif menuntaskannya hingga ke akar persoalan yang sebenarnya.

Tapi, pernahkah kita berpikir untuk mencari solusi? Zakat misalnya. Kita tentu ingat bagaimana masa pemerintaharan khulafur rasyidin mengoptimalkan zakat untuk memakmurkan dan melakukan pembangunan peradabannya. Dari hasil penghimpunan zakat, bisa diberdayakan untuk menciptakan lapangan pekerjaan, pengobatan gratis untuk dhuafa, beasiswa pendidikan. Mungkinkah?

Ada sekitar Rp 20 triliun potensi zakat di Indonesia. Sayangnya, puluhan lembaga amil zakat, infak dan sedekah (Lazis) yang ada di negeri ini, hanya mampu menghimpun sekitar Rp 1 triliun saja. Ini artinya, masih ada sekitar Rp. 19 triliun dana zakat itu yang masih menganggur.

Apa sebab penyerapan itu belum optimal? Sebuah studi yang dilakukan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah pada 2004 silam pernah mengungkap, penyerapan dana zakat masih terkendala oleh tingkat kepercayaan masyarakat yang rendah terhadap Lazis. Para muzakki (orang yang wajib membayar zakat) lebih yakin zakatnya akan tersalurkan dengan baik manakala mereka memberikan langsung kepada mustahik (orang yang berhak menerima zakat).

Penelitian ini menyisakan sebuah tanggungjawab bagi para amil, yakni tugas meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keutamaan membayar zakat secara kolektif. Bahwa membayar zakat melalui Lazis memiliki dampak yang signifikan daripada membayar zakat secara perorangan. Ini juga harus dibuktikan melalui pengelolaan zakat yang amanah, profesional dan transparan sehingga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Lazis semakin baik.

Selain itu, pemanfaatan zakat melalui program yang produktif, juga menentukan masyarakat dalam menjatuhkan pilihannya untuk membayar zakat melalui lembaga. Sehingga diperlukan kreatifitas amil dalam mengelola zakat dan menelurkan program pendayagunaan zakat itu sendiri. Karena bila zakat tidak diberdayakan secara produktif, justru hanya akan menimbulkan penyakit baru di masyarakat, yakni cargo cult mentality (kebudayaan menunggu bantuan tanpa berusaha).

Kalau program yang yang dijalankan Lazis bisa memberdayakan mustahik, maka hal ini sudah sejalan dengan prinsip zakat itu sendiri, yaitu “Mengubah mustahik menjadi muzakki”. Karena pada hakikatnya, zakat itu memberdayakan dhuafa.

Perlu dipahami, bahwa zakat juga ada yang bersifat konsumtif disamping yang produktif. Jumlah pemberdayaan dana zakat di sektor produktif mesti digalakkan agar prinsip zakat tadi benar-benar terwujud. Namun bukan berarti zakat yang bersifat konsumtif itu tidak baik, hanya saja alokasinya perlu disesuaikan. Misalnya pemberian makanan sehat bagi bayi yang kurang gizi tetap harus dilakukan, di saat yang sama, para orangtua mereka yang miskin juga harus diperhatikan aspek ekonominya.

Jangan sampai seperti pengalaman buruk yang terjadi di Bantul, Yogyakarta pasca gempa bumi yang melanda pada Mei 2006 silam. Para orangtua bayi yang menderita malnutrisi itu menjual makanan bayi dan susu yang diberikan oleh pemerintah untuk anak mereka. Ini dilakukan dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan makan mereka sehari-hari.

Jadi program yang sifatnya produktif dan konsumtif mesti disinergikan ketika dana zakat akan diberdayakan bagi dhuafa. Sebab kalau tidak, justru penyimpangan yang akan terjadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s