Detoksifikasi Ruhani

Oleh Lufti Avianto

*) Ditulis untuk Dompet Dhuafa Republika

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57)

DALAM istilah kedokteran, detoksifikasi bermakna proses penetralan yang terjadi terhadap toksin atau racun di dalam tubuh manusia. Puasa, secara medis juga membantu proses detoksifikasi agar tubuh menjadi pulih kembali. Ini juga berlaku tidak hanya bagi jasmani, detoksifikasi juga terjadi pada ruhani orang yang berpuasa.

Bisa kita bayangkan, dosa, kesalahan dan khilaf kita –baik yang disengaja maupun tidak– di masa sebelas bulan yang lewat? Sebesar gunungkah? Dosa-dosa inilah yang menjadi ‘toksin’ di dalam ruhani manusia yang membawa keburukan bagi pelakunya. Bahkan, dosa yang dilakukan pelakunya, tak bisa ‘ditransfer’.

Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.” (QS. Al-An’am: 164).

Sepertihalnya penyakit yang bersemayam dalam tubuh, jiwa yang teracuni penyakit juga memiliki gejala. Biasanya, orang yang qalbunya sakit, pandangan dan keinginan hatinya akan rusak sehingga menempuh jalan yang syubhat. Baginya, jalan kebatilan adalah jalan yang benar, sehingga dia lebih menyukai kebatilan yang merusak daripada jalan kebenaran yang bermanfaat.

Memang, penyakit atau racun yang ada di dalam hati, tidak datang dengan sendirinya. Adakalanya, hati itu sakit, lemah, sembuh bahkan mati. Namun, hal ini biasanya disebabkan oleh syahwat yang dituruti, penyakit syubhat yang telah akut dan kejahiliahan seseorang.

Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar. (QS. Al-Ahzab: 60).

Penyakit seperti ini –dengan izin Allah Swt. – masih bisa disembuhkan, yakni dengan kata-kata hikmah dan nasihat yang baik. Selain itu, momen bulan Ramadhan yang penuh keberkahan kali ini, sebaiknya dioptimalkan untuk mendeteksi sejauhmana tingkat kerusakan hati kita. Apakah telah redup sehingga sedikit cahaya Illahi yang menerobos masuk ke dalam hati kita? Atau bahkan sudah mati. Na’udzubillah min dzaalik.

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Q.S Al-Israa: 82).

Dari salah satu firman Allah Swt. di atas, jelaslah sudah yang dimaksud sebagai penawar hati yang sakit. Zat yang membantu proses ‘detoksifikasi’ ruhani, yaitu al-Quranul kariim. Ia adalah penawar dari segala bentuk racun yang ada di dalam dada manusia. Racun yang bisa mendistorsikan kebenaran Illahi, melihat segala sesuatu menjadi sebaliknya; baik jadi buruk, salah jadi benar, terhadap pandangan hidup, niat, pengetahuan dan daya imajinasi seorang hamba.

Ramadhan adalah bulan saat diturunkannya al-Quran. Di bulan inilah aat yang tepat untuk membumikan kembali lantunan ayat suci al-Quran ke dalam hati seorang hamba, ke dalam rumah-rumah keluarga Muslim, ke dalam masjid dan rumah Allah Swt. agar tetap semarak dengan suara keagungan-Nya. Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s