1 Bulan, 2 Perjuangan

Oleh Lufti Avianto

*) Ditulis untuk Dompet Dhuafa Republika

Allah Swt. menakdirkan bulan Ramadhan kali ini bersamaan dengan bulan Agustus, bulan kemerdekaan bangsa Indonesia. Ramadhan di kalender Hijriah, Agustus di Masehi, tapi punya satu spirit yang sama; nilai perjuangan bagi umat Islam Indonesia.

Ramadhan, mengandung nilai-nilai perjuangan seorang hamba yang beriman untuk menjadi sosok manusia yang bertakwa. Dengan berpuasa, seorang Muslim melatih kepekaan dan empati terhadap masalah sosial yang ada di sekitarnya. Sementara ruhaninya, juga dilatih dengan sejumlah ibadah agar terbebas dari penyakit hati dan selalu merasa dirinya diperhatikan Rabbnya.

Agustus, juga sarat nilai perjuangan bagi bangsa ini. Bulan ini menyimpan nilai historis bangsa yang berjuang membebaskan diri dari penjajahan Kolonial Belanda, berturut kemudian Jepang. Sebuah perjuangan dan pengorbanan pendiri negara ini yang patut diingat dan diteladani anak bangsa. “Sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa,” begitu bunyi dalam konstitusi negara kita, Undang-undang Dasar 1945.

Memang, bukan urusan mudah mencapai gelar ‘merdeka’ dan ‘takwa’. Namun, bukan pula berarti mustahil mencapainya. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam al-Quran yang mengharuskan setiap hamba untuk berjuang dalam setuap urusan:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Kemerdekaan yang kita peroleh enam puluh lima tahun lalu bukanlah hasil dari pemberian sang penjajah. Bukan, tapi sebab kecerdikan bangsa ini melihat peluang, kesungguhan perjuangan dalam merebut kemerdekaan, keberanian melawan penindasan, serta semangat rakyat Indonesia untuk menjadi bangsa yang berdaulat.

Itulah perjuangan. Dan karenanya, Allah Swt. menakdirkan bangsa ini mampu memproklamasikan kemerdekaannya sebagai bangsa yang berdaulat pada 17 Agustus 1945, juga pada bulan Ramadhan.

Begitu juga gelar ‘takwa’ yang Allah Swt. janjikan dalam bulan penuh kemuliaan ini. Bukan urusan gampang menjadi orang yang berpredikat itu, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Baqarah: 183. Juga, takwa bukanlah pemberian secara cuma-cuma atau sesuatu yang datang dari langit dengan simsalabim. Bukan begitu.

Seorang yang meraih gelar ini, mestilah berjuang menjaga kualitas puasanya, tak sekadar menahan perih di perut dan panas di kerongkongan semata, melainkan juga menjaga hati dari penyimpangannya. Selain itu, berjuang menegakkan setiap ibadah sunah dan wajib di hari-hari Ramadhan, lalu melatih diri pula dalam menegakkan ibadah sosial di masyarakat. Itu esensi perintah puasa.

Kini, dua bulan sarat perjuangan itu ada di hari-hari kita. Ada persamaan nilai yang harus dimaknai setiap Muslim Indonesia. Bahwa kesempatan Ramadhan ini, adalah momen penting bagi kemerdekaan diri dari segala bentuk penjajahan.

“Barangsiapa melakukan ibadah Ramadhan karena iman dan mengharap ridho-Nya, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lewat.” (Muttafaq Alaihi).

Pembebasan diri dari penjajahan dalam arti yang sebenarnya. Penjajahan korupsi. Penjajahan konflik horizontal. Penjajahan intervensi asing terhadap kepentingan negeri ini. Juga pembebasan diri dari hawa nafsu serta gelayut dunia dan seisinya. Berjuang, melalui ibadah shaum Ramadhan kali ini, agar diri ini dimerdekakan dari semua dosa dan kesalahan kita oleh Sang Mahapengampun.

Hadits dari Ibnu Khuzaimah, “andaikan setiap hamba itu tahu apa yang ada di bulan Ramadhan, maka ia akan berharap setahun penuh adalah Ramadhan.”

Untuk apa setiap hari Ramadhan? Tentu agar setiap hari kita bernilai ibadah sebagai sebuah perjuangan dalam memerdekakan diri dari belenggu duniawi.

Tapi, apa iya kita sudah benar-benar merdeka?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s