Ramadhan-morfoself

Oleh Lufti Avianto

*) Ditulis untuk Dompet Dhuafa Republika

Analogi metamorfosis ulat di dalam kepompong yang menjadi kupu-kupu– dengan momen perubahan kualitas hamba di bulan Ramadhan, sudah jamak kita dengar. Orang yang beriman selalu memanfaatkan bulan yang penuh berkah itu untuk memperbaiki hubungan vertikalnya dengan Sang Khaliq (hablum min Allah) dan memperbaiki jalinan horizontalnya dengan manusia (hablum min annaas). Harapannya, seperti yang termaktub dalam firman-Nya yang mulia:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Terminologi ‘takwa’ pasca ibadah Ramadhan, hendaknya tidak hanya definisikan secara kaku sebagai hamba yang ‘menjalankan perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya’ saja. Bisa dengan maksud yang lebih rinci dan luas. Takwa juga berarti merasa berhati-hati dalam setiap perkara dan selalu merasa diawasi Allah Swt. atas setiap perbuatannya.

Seorang hamba yang lulus dari Universitas Ramadhan, tentu telah mendapatkan perubahan positif bagi dirinya, tidak hanya perubahan jasmani, tetapi juga ruhani. Tidak hanya puasa telah menyehatkan badannya, tetapi juga akhlak, pemikiran, juga semangat ibadahnya untuk menghadapi sebelas bulan berikut. Karena ia sadar bahwa Ramadhan sebagai momen untuk bermetamorfosis menjadi pribadi muslim yang unggul dengan nilai-nilai ketakwaan.

Dalam konteks ini, saya menyebutnya Ramadhan-morfoself. Gabungan dari beberapa kata yang dijadikan satu; Ramadhan, Metamorfosis dan Self. Maksudnya, seorang hamba yang menggunakan momentum Ramadhan sebagai sarana perubahan kualitas diri menjadi lebih baik, seperti analogi kupu-kupu di atas.
Tapi, berapa banyak manusia yang memenuhi panggilan Allah Swt. dan bisa bermetamorfosis seperti yang Dia harapkan?

Ada yang berpuasa, tapi tetap berdusta. Menghidupkan Ramadhan dengan tilawah al-Quran, tetapi membicarakan aib saudaranya (ghibah).

“Barangsiapa tidak dapat meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa) maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya.” (HR. Bukhari).

Mendirikan shalat malam, namun tak meninggalkan makan yang berlebihan saat berbuka. Berbuka dengan menu yang mewah, tapi tak risih saat tetangganya tak ada makanan untuk berbuka.

“Mungkin hasil yang diraih seorang shaum (yang berpuasa) hanya lapar dan haus, dan mungkin hasil yang dicapai seorang yang shalat malam (Qiyamul lail) hanyalah berjaga.” (HR. Ahmad dan Al Hakim).

Bersemangat menjalankan ibadah Ramadhan, tapi tak berusaha meninggalkan kebiasaan buruk dan maksiat. Inikah yang dimaksud dengan metamorfosis manusia di bulan Ramadhan?

“Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan (hidup) pada bulan Ramadhan tetapi tidak terampuni dosa-dosanya.” Lalu aku mengucapkan “Aamin.” (HR. Ahmad).

Memang butuh kerja keras dan keringat untuk menggapai kemuliaan pribadi di bulan ini. bahkan, Rasulullah yang nyata-nyata telah dijamin Allah Swt. sebagai manusia yang pertama masuk surge pun, tetap beribadah luar biasa. Kakinya bengkak saking seringnya shalat tahajjud. Tangannya selalu terbuka untuk bersedekah. Lisannya basah dengan dzikir, hikmah dan al-Quran. Bagaimana dengan kita yang belum tentu dijamin bebas dari neraka-Nya?

Mumpung Ramadhan belum berakhir. Mumpung pula masih ada usia. Anggap saja ini sebagai Ramadhan kita yang terakhir, sehingga kita bisa beribadah di bulan ini mendapatkan keberkahan yang luar biasa; rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka.

Sahl r.a. mengatakan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat (delapan pintu. Di sana ada pintu yang disebut Rayyan, yang pada hari kiamat akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa. Tidak seorang selain mereka yang masuk lewat pintu itu. Dikatakan, ‘Dimanakah orang-orang yang berpuasa?’ Lalu mereka berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk darinya. Apabila mereka telah masuk, maka pintu itu ditutup. Sehingga, tidak ada seorang pun yang masuk darinya.”
Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s