Berpuasa Tapi Merugi

Oleh Lufti Avianto

*) Ditulis untuk Dompet Dhuafa Republika

SUATU SIANG RAMADHAN, di Jalan Ibukota. Seperti biasa, jalanan sesak dengan kendaraan bermotor roda dua dan empat. Kemacetan mengular hingga lima ratus meter. Namun terik matahari, seperti mendidihkan darah para pengguna jalan hingga membuat mereka makin tak sabar. Apalagi, pasukan gerobak pedagang melawan arah, jadilah kemacetan itu kian parah.

Tak ada petugas kepolisian. Hanya ‘polisi cepek’ yang terlihat kelimpungan karena dihujani klakson motor dan mobil yang memekakkan telinga. Tiba-tiba, “Brakkkk…” seorang pengendara sepeda motor jatuh tersenggol mobil. Sang sopir langsung mengumpat, “mata lo dimana, brengsek?!”

Sudah jatuh, diumpat pula. Tak terima, si pengendara motor, balik memaki. “Sialan lo. Mata lo yang dimana, setan?!” Peristiwa berikunya bisa ditebak. Para pengguna jalan itu saling memaki, dan diakhiri baku hantam. Akibatnya, jalanan tambah macet dan merugikan pengguna jalan lain.

Di sebuah kantor swasta, di bilangan Jakarta Selatan. Sebelum pukul Sembilan, para karyawan perusahaan itu sudah masuk kantor. Seorang karyawati menggunakan kesempatan beberapa menit itu untuk berselancar di dunia maya. “Waahh, bakalan tambah seru nih kasus video mesum artis yang mirip Ariel, Luna, Tari itu,” ia berseloroh sambil matanya tetap pada layar sebuah situs gossip selebritas.

Karyawata lain di sebelahnya, menoleh. “Apa nih, berita terbarunya, jeng?” matanya mengintip layar komputer milik rekannya. Bisa dibayangkan adegan berikutnya. Dua karyawati itu terlibat obrolan gosip seru tiga selebritas yang tersangkut video asusila itu. Saling bertukar informasi ter-update dan saling mengomentari.

Sementara, situasi yang tak berbeda di sebuah instansi pemerintah di Jakarta Timur. Seorang pemimpin mengumpulkan beberapa anak buah di ruangannya. “Jadi, kita bikin saja dinas fiktif ke Surabaya dan Bali. Yang mau, tandatangan, tapi dapat 80 persen saja,” sang pemimpin menawarkan kepada beberapa anak buahnya. “Daripada capek-capek bulan puasa ke luar kota. Mending buat tambahan THR, kan?”

Anak buah itu mengangguk setuju atas usul si bos. Pertimbangan yang cerdas, pikir mereka. Jadilah, mereka serentak menandatangani dinas luar fiktif dengan imbalan sejumlah uang yang menggiurkan. Mereka keluar ruangan si bos, dengan wajah berseri-seri. “Rejeki nomplok,” ujar salah seorang di anatara mereka.

Sahabat, apakah inil perilaku sebagian (besar) kita? Semoga tidak. Memang, bulan Ramadhan telah membawa perubahan. Tapi, mungkin saja hanya sebuah perubahan ‘kecil’ pada kalender kita, dari Sya’ban ke Ramadhan. Atau perubahan pola makan kita, menahan dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Sayangnya, perubahan itu belum sampai kepada perubahan yang lebih substantif. Perubahan untuk berlatih mengendalikan emosi, berlatih untuk menghindari diri dari pembicaraan yang sia-sia, atau berlatih untuk lebih jujur dari perilaku koruptif.

Ilustrasi di atas, hanyalah sebuah cerita ‘kecil’ keseharian kita. Dari sinilah, sebaiknya menjadi renungan harian Ramadhan kita hingga hari terakhir. Bahwa berpuasa, memiliki urgensi yang jauh lebih luas dari pada menahan lapar-dahaga semata. Jauh dari itu, puasa membentuk kepribadian yang sabar, berempati, dan jujur. Tidak hanya menjadi pribadi yang shalih secara pribadi, tetapi juga shalih secara sosial.

Memang tak mudah, bukan berarti mustahil untuk mengisi hari-hari Ramadhan dengan penuh nuansa ibadah. Mengganti pembicaraan sia-sia dengan tilawah al-Quran, mengendalian emosi dengan dzikir dan istighfar, dan melatih kepedulian dengan empati terhadap nasib sesama. Karena, terlampau merugi bila melewati bulan keberkahan ini dengan kesia-siaan.

Rasulullah Saw menaiki mimbar (untuk berkhotbah). Menginjak anak tangga (tingkat) pertama beliau mengucapkan, “Aamin”, begitu pula pada anak tangga kedua dan ketiga. Seusai shalat para sahabat bertanya, “Mengapa Rasulullah mengucapkan “Aamin”? Beliau lalu menjawab, “Malaikat Jibril datang dan berkata, “Kecewa dan merugi seorang yang bila namamu disebut dan dia tidak mengucap shalawat atasmu” lalu aku berucap “Aamin.” Kemudian malaikat berkata lagi, “Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup bersama kedua orang tuanya tetapi dia tidak sampai bisa masuk surga.” Lalu aku mengucapkan “aamin”. Kemudian katanya lagi, “Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan (hidup) pada bulan Ramadhan tetapi tidak terampuni dosa-dosanya.” Lalu aku mengucapkan “Aamin.” (HR. Ahmad).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s