Blackberry Sang Amil

Oleh: Lufti Avianto

*) Ditulis untuk Dompet Dhuafa Republika

Ada kegelisahan seorang kawan yang terekam ingatan saya. Ia gundah, sebab sebagai seorang amil di sebuah lembaga amil zakat berskala nasional, ada kebijakan yang membuatnya tak sreg. Lembaga tempatnya mengabdi selama hampir sepuluh tahun itu, belakangan memberikan fasilitas komunikasi yang cukup mewah kepada karyawan setingkat manajer hingga ke atasnya. Blackberry.

Ada yang senang, tentu para amil setingkat manajer itu. Ada yang gundah, termasuk kawan saya itu.

“Saya merasa itu belum tepat,” keluhnya. Nadanya terdengar cemas dengan mimik serius. “Terlalu berlebihan.”

Saya bisa merasakan kegelisahannya. Bukan sebab ia hanya selevel staf sehingga tak dapat merasakan asyiknya ber-BBM ria alias blackberry messanger-an atau berselancar di dunia maya setiap saat. Bukan itu. Saya tahu dia prihatin. Sebab, beberapa karyawan lain yang masih berstatus kontrak atau sukarelawan, benar-benar harus bekerja dengan ‘suka’ dan ‘rela’ atas kesejahteraan yang diberikan lembaga.

Sementara sang sukarelawan harus tetap legowo dalam keprihatinannnya, segelintir amil menikmati fasilitas barunya seperti menggendong bayi baru mereka. Memang, harus diakui, bahwa kesejahteraan amil di satu sisi, dengan peningkatan produktifitas kinerja amil di sisi lain, menjadi hal yang sulit diputuskan. Katanya, seperti menghadapi buah simalakama.

Dan, beberapa waktu belakangan ini, saya mengamati kebijakan yang terakhirlah yang menjadi pilihan beberapa lembaga zakat. Meski saya tetap berprasangka baik, bahwa lembaga zakat itu akan tetap memperhatikan kesejahteraan para amil yang benar-benar bekerja dengan ‘suka’ dan ‘rela’ tadi.
Seharusnya memang, lembaga zakat yang profesional, bahkan berskala nasional itu, bisa lebih memperhatikan para amil yang berada pada level terbawah itu. Sebab, amil memiliki porsi dana zakat yang menurut Imam Syafii sebesar maksimal seperdelapan dari penghimpunan dana zakat. meski ada beberapa lembaga yang tak memaksimalkan porsinya. Namun, semakin besar penghimpunannya, semakin besar pula porsi amil.

Mungkin, kegelisahan kawan saya terlalu berlebihan. Tapi, mungkin saja tidak. Menurutnya, sebagai seorang amil yang amanah, prinsip kesederhanaan perlu dikedepankan. Singkatnya, bila fasilitas lama masih layak, tak perlulah mengganti fasilitas yang baru.

Tapi bagi saya, blackberry atau fasilitas lain, (mungkin) hanya sebagai sebuah simbol kemewahan secara tekstual. Namun, secara kontekstual, ini harus dipahami sebagai sebuah tuntutan kinerja amil yang kian produktif dan profesional. Kerja luar biasa yang mencapai 24 jam nonstop sehingga ia harus tetap standby melayani umat.

Ah, mungkin saja hal ini terlalu berlebihan. Sebab, amil memiliki kewenangan untuk menentukan kesejahteraan mereka dengan menggunakan porsi yang sudah ditetapkan-Nya dalam surah At-Taubah ayat 60 yang menurut Imam Syafii sebesar seperdelapan dari dana zakat yang berhasil dihimpun.
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, ‘amilin, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 60).

Jadi, sebab amanahnya untuk menghimpun dan mengelola zakat, amil mendapatkan bagaiannya. Di tangan merekalah, kesadaran masyarakat untuk berzakat dibangunkan dari tidurnya. Sepatutnya, tak membesarkan fasilitas yang –Insya Allah- akan membawa produktifitas seorang amil dalam mengabdi bagi kepentingan umat.

Bisa saja kawan saya terlalu gelisah memikirkannya. “Tapi blackberry harganya mahal,” kata lelaki ini suatu siang, Ramadhan ketiga. Saya tersenyum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s