Dialog Imajiner Ramadhan & Syawal

Oleh: Lufti Avianto

*) Ditulis untuk Dompet Dhuafa Republika

Ada kegelisahan yang terpancar dari raut wajah Ramadhan. Matanya nyalang menyapu langit-langit sebuah ruangan. Pikirannya terbaca galau seperti menyemburatkan hatinya yang kalut.

“Tampaknya kau gelisah, Dhan,” tanya Syawal suatu ketika.

“Ehh… mmh…” berusaha mengendalikan diri. “Tak mengapa. Hanya kegelisahan kecil.”

“Hei, ini kan waktumu kawan,” kata Syawal. “Umat Islam di seluruh dunia tengah menyemarakkan hari-harimu dengan ibadah sunah dan wajib. Hargailah sambutan mereka atas kedatanganmu.”

 

“Sayangnya, aku tak merasakan penyambutan meriah itu,” katanya parau. “Kecuali sedikit di antara mereka yang benar-benar gembira atas kehadiranku.”

“Heii.. kenapa kau jadi tambah sensitif begini, kawan?” Syawal setengah berteriak.

“Bagaimana tidak, atas namaku, tayangan teve bulan ini tetap menyambutku dengan nilai materialisme. Di Mall, mereka menyambutku dengan konsumerisme, di … semua tempat …” kata-katanya patah tersedak dengan tangisnya yang tertahan. “Bagaimana aku tak sakit hati karena hanya sekadar dimanfaatkan saja demi keuntungan sebagian orang?”

Syawal tercenung. Tak menyangka sahabat sejatinya itu, merasakan kesedihan yang luar biasa.

“Tapi, Dhan, kau menyimpan banyak keutamaan yang Allah Swt. anugerahkan. Bersabarlah..” Syawal berusaha menghibur. “Di masamu, al-Quran yang mulia diturunkan. Saat kedatanganmu, sudah ditunggu saat Rajab dan Sya’ban. Mereka yang menyambutmu dengan suka cita, akan diampuni Allah Swt, diberikan rahmat dan dibebaskan dari api neraka. Saat kau ada, disemarakkan semua ibadah, pahala dilipatgandakan dan badan mereka disehatkan pula. Di masa sepuluh terakhirmu, ada Lailatul Qadr.”sid930

Ramadhan diam, tangisnya mereda. Ia berusaha mencerna kalimat demi kalimat yang disampaikan Syawal. Dia benar…

“Sudahlah. Nikmati saja jamuan orang-orang beriman atasmu. Berbahagialah dengan lantunan tilawah al-Quran dari mereka. Senangkan hatimu dengan puasanya orang-orang beriman yang menahan diri dari kemaksiatan. Doakanlah mereka yang berdiri dan sujud pada malam milik-Nya. Meski jumlah mereka sedikit. Toh, Allah Swt. Mahatahu atas keimanan setiap hamba-Nya.”

“Baiklah. Alhamdulillah. Terima kasih sudah menghiburku. Kamu sendiri bagaimana?” katanya sambil melirik Syawal di sampingnya.

“Aku? Ah, biasa saja. Aku justru prihatin dengan kemenangan yang Allah berikan di masaku. Sebab, tak semuanya yang berhasil mendapatkan kemenangan di masamu juga,” nadanya datar. “Menjelang kehadiranku, banyak manusia berlomba-lomba memperbagus rumahnya, pakaiannya, penampilannya. Tapi tidak berusaha memperbagus akhlak dan ibadahnya.”

“Jadi, mereka menyambutmu masih seperti dulu?” giliran Ramadhan menyelidik.

“Ya, begitulah. Masih sebatas ritual dengan ketupat, baju baru, mudik ke kampung halaman,” katanya. Masih datar nadanya. “Mereka senang menyambutku karena hal-hal itu. Ada kebiasaan yang tak berubah juga dari mereka.”

“Apa itu?”

Syawal menghela napasnya, “mereka lebih menyambut kedatangan Tunjangan Hari Raya daripada menyambutku penuh rasa kemenangan atas ibadahnya,” Syawal tersenyum kecut.

“Kita bernasib sama, ya,” Ramadhan angkat bicara. Syawal mengangguk lemah.

“Eh, bagaimana kalau kita buka puasa bersama sore ini?” Syawal usul sambil menggamit tangan Ramadhan. Mereka lalu meneruskan pembicaraan tentang rencananya sore itu dalam perjalanan pulang. Sambil menelusuri lorong kehidupan yang gelap, pengap dan panjang. Kedua makhluk Allah Swt. itu saling menguatkan dan menyemangati satu sama lain.

Adakah kita termasuk orang yang diperbincangkan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s