Bacalah!

Oleh: Lufti Avianto

*) Ditulis untuk Dompet Dhuafa Republika

Ini tahun ketiga, saat Nabi Muhammad mengasingkan diri di Gua Hira. Berbekal roti, gandum dan air, ia kerap menyendiri di gua yang terletak di Jabal Nur, dua mil dari kota Makkah itu. Banyak soal yang dipikirkannya. Terutama sekali, kemusyrikan kaumnya yang tak terbendung lagi pada masa itu. Maka langkah mengasingkan diri, menjadi semacam penyucian ruh agar tak sibuk memikirkan gejolak duniawi.

Saat berada di dalam, Muhammad dikejutkan dengan kehadiran sesosok malaikat, Jibril. “Bacalah,” sosok itu memintanya.
“Aku tidak bisa membaca,” Muhammad menjawab dengan gemetar.

Jibril lalu mendekatinya, merangkulnya dan memerintahkannya lagi, “bacalah!”

Rangkulan itu terasa menyesakkan dirinya. Ia kembali memberikan jawaban yang sama. “Aku tidak bisa membaca.”

Jibril merangkulnya lagi dan meminta Sang Nabi membaca kembali selembar kain sutera berisikan wahyu. Ini berlangsung hingga tiga kali dialog itu terjadi, namun Sang Nabi tetap tak mampu membacanya. Lalu, Jibril melepaskannya, seraya berkata:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

***
Peristiwa ini kita kenal dengan Nuzulul Quran atau saat diturunkannya al-Quran. Dan ayat di atas, diyakini sebagai wahyu yang pertama kali turun. Umat Islam di seluruh dunia kerap memperingatinya dengan aneka kegiatan setiap 17 Ramadhan (meski ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai tanggal. Ada yang menyebut tanggal 7, 17 atau 21 Ramadhan).

Namun, kita kerap alpa dengan makna perintah wahyu yang pertama kali turun ini. Ada yang lebih penting dari sekadar perayaan kolektif itu, yakni mengakrabkan diri dengan al-Quran dengan beberapa tahapan interaksi. Semoga, momentum ini bisa menambah semangat, kecintaan dan keimanan kita terhadap al-Quran.

Tahap pertama adalah, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “sebaik-baik kamu adalah mereka yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Mempelajari sekaligus membacanya merupakan sarana seorang Muslim menyelami nilai dan hikmah yang terkandung di dalam Kitab Suci. Ada hukum, prinsip kehidupan, nasihat dan panduan hidup. Lalu diikuti dengan mengajarkannya –tidak hanya cara membaca, tetapi juga nilai dan hikmah al-Quran– kepada Muslim lainnya.

Naik ke tahapan berikutnya, dalam mengimani al-Quran kita dituntut untuk memahami dan mentadaburi isinya. “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang berakal.” (QS. Shaad:29).
Tak mungkin seorang Muslim menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup bila ia tak memahaminya. Namun untuk mampu memahami dan mentadaburi keagungan-Nya melalui al-Quran, kita harus menghilangkan penghalang pemahaman. Meninggalkan perbuatan dosa.

Setelah tumbuh keimanan dan pemahaman Islam melalui al-Quran, langkah berikutnya adalah merealisasikannya dalam bentuk amal pada kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, kita bisa menyontoh langsung dari Rasulullah saw., karena, “akhlak beliau adalah seperti al-Quran yang berjalan,” begitu dalam sebuah hadits disebutkan. Ini kita lakukan sebab nilai al-Quran telah berada di dalam hati sehingga memancarkan sikap hidup yang Qurani. Seperti air teko yang berisi teh, ia juga hanya akan mengeluarkan teh. Bukan yang lain.

Dengan demikian, kita juga telah turut menjaga dan memelihara al-Quran di atas kertas ke dalam sikap hidup. Selain kita juga menghafal ayat demi ayat-Nya. Bagi yang menghafalnya, Allah Swt telah menjanjikan kemuliaan, berupa surga yang nikmatnya tiada tara. Karena al-Quran, telah digaransi keagungan dan kemuliaannya.

“SesungguhnyaiKamilah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s