Gagal Ramadhan

Oleh Lufti Avianto

*) Ditulis untuk Dompet Dhuafa Republika

Saya yakin, di dunia ini tak ada satu pun manusia yang menyukai kata gagal. Meski gagal kerap didekatkan dengan pepatah sebagai suatu sukses yang tertunda. Gagal dalam pepatah itu, mungkin baik bila didekatkan dengan konteks upaya menggapai cita-cita, agar tak lekas patah arang. Tapi dalam konteks lain, akan terasa menyakitkan, misalnya rumah tangga, kesehatan, bahkan konteks akhirat.

Kita masih bisa membayangkan betapa pahitnya sebuah keluarga yang mengalami gagal rumah tangga. Kita juga tahu persis rasa sakit dan ngilunya seorang pasien yang mengalami gagal jantung atau gagal ginjal. Tapi, bisakah kita bisa membayangkan bagaimana seseorang yang mengalami gagal akhirat? Pastilah celaka.

Barang siapa yang hari kemarin lebih buruk dari hari ini, maka dia celaka. Barang siapa yang kemarin sama dengan hari ini, maka dia merugi. Dan barangsiapa yang hari kemarin lebih baik dari hari ini, maka beruntungla dia.

Cukuplah hadits di atas mengingatkan kita tentang sebuah kegagalan. Sebab, seseorang yang tak mampu mempersiapkan bekal untuk Hari Akhirnya, maka merugilah ia dengan sebenar-benarnya rugi. Kalau sudah begini, akan kemana ia meminta pertolongan?

Nah, untuk mempersiapkan bekal itulah, bulan Ramadhan hadir bagi orang-orang yang beriman. Di sinilah, umat Islam mempersiapkan akhiratnya dengan memperbanyak ibadah, doa dan memohon ampunan agar terbebas dari api neraka dan beroleh rahmat. Namun, bagaimana bila seorang Muslim mengalami gagal Ramadhan? Akankah berujung pada gagal akhirat? Na’udzubillah min dzaalik.

Gagal Ramadhan berarti ketidakmampuan seorang Muslim dalam menjalani ibadah shaum dan ibadah lainnya di bulan yang penuh berkah ini, agar menjadi insan yang bertakwa. Takwa dalam terminologi keshalihan pribadi dan juga keshalihan sosial secara simultan. Di Ramadhan, ia kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena itu, hal ini perlu didiagnosa, agar penyakit gagal Ramadhan ini, bisa diobati lebih dini.

Ada beberapa gejala yang bisa kita rasakan, apakah kita sedang, tengah atau akan mengidap penyakit gagal Ramadhan. Pertama, kita tak mempersiapkan kehadiran Ramadhan sebaik-baiknya. Karena, Rasulullah dan para sahabat menyambut Ramadhan sejak bulan Sya’ban dengan memperbanyak shaum dan ibadah sunah lainnya.

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam biasa berpuasa sehingga kami menyangka beliau tidak akan berbuka dan beliau berbuka sehingga kami menyangka beliau tidak akan berpuasa. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa dalam suatu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban. (HR. Muttafaq Alaihi).

Kedua, kita tak menjadi lebih pemurah dari bulan-bulan sebelumnya. Sebab, di bulan ini, Rasulullah saw sangat pemurah dan rlebih rajin bersedekah ketimbang bulan-bulan sebelumnya. “Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dan bertambah kedermawanannya di bulan Ramadhan (HR. Bukhari).
Ketiga, ibadah kita tak meningkat di bulan yang mulia ini, sama seperti bulan lainnya.

Keempat, tak ada perubahan kebiasaan makan kita. Puasa hanya mengubah waktu makan saja, tetapi tidak menu makanannya. Puasa yang seharusnya menjadi obat dan detoksfisikasi alami, malah menjadi racun dengan menu makanan yang serba wah dan tak terkontrol. Bahkan, saat berbuka menjadi ajang wisata kuliner dan balas dendam untuk makan sepuas-puasnya.

Kelima, kita tak menjadi pribadi yang empati terhadap kesulitan sesama. Bukankah puasa hakikatnya juga mengandung nilai ibadah sosial? Rasa lapar di perut kita, sejatinya bukanlah tanpa makna. Dengan ibadah ini, Allah Swt. mengajarkan kita rasa solidaritas terhadap si fakir dan si miskin yang setiap hari merasakan laparnya.

Keenam, kita lengah di etape terakhir. Sepertihalnya lomba marathon, kita harus sprint di beberapa kilometer menjelang finish. Rasulullah Saw. selalu menggunakan kesepatan sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan beritikaf. Memperbanyak ibadah, doa, dzikir dan taubat kepada Yang Maha Penyayang.
‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila memasuki sepuluh hari –yakni sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan—mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. (HR. Muttafaq Alaihi).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s