Topeng Ramadhan

Oleh: Lufti Avainto

*) Ditulis untuk Dompet Dhuafa Republika

Aneh. Sepanjang Ramadhan, memang hampir semua barang dagangan laris-manis. Sebutlah aneka penganan berbuka puasa, kue-kue kering menggoda selera, pakaian untuk lebaran berikut aksesoris yang akan dipadu-padankan. Tapi ternyata ada yang jauh lebih laris lagi dari komoditas tadi. Apa itu? Topeng.

Topeng bukan sembarang topeng. Topeng ini bisa menyulap si pemilik wajah terlihat seperti yang diinginkan. Ingin wajah terkesan sholih atau sholihah? Ada. Atau ingin tampil kalem, juga bisa. Pokoknya apa pun karakter dan tampilan yang diinginkan, pasti bisa. Karena di bulan ini, semua orang ingin menyesuaikan dengan nuansa Ramadhan yang serbaislami. Benarkah begitu?

Nyatanya, banyak orang yang mendadak tampil Islami. Sebut saja, selebritas kita yang meramaikan layar kaca saat menemani santap sahur dan berbuka puasa keluarga di rumah. Salah seorang kawan saya dari sebuah harian nasional pernah iseng menunjukkan foto salah seorang aktris yang tampil dengan topeng itu.

“Nih, lihat kelakuan selebritas kita,” katanya sambil menyorot foto sang aktris dengan busana setengah telanjang. Dalam sebuah film bertajuk ‘Air Terjun Pengantin’. Posisinya duduk di sebuah ranjang. Wah.

“Nih, lihat lagi yang ini,” kali ini monitor laptopnya memperlihatkan aktris yang sama dengan balutan busana Muslimah. Berjilbab putih. Anggun. Namun kontras dengan gambar sebelumnya.

“Nih, bagaimana tuh?” ia mengatakan ‘nih’ ketiga kalinya dengan nada meledek. Entah meledek apa. Mungkin meledek kepalsuan. Mungkin juga meledek topeng yang saat ini laris-manis terjual. Atau mungkin meledek aktris yang ketahuan berganti topeng? Entahlah.

Itulah Ramadhan yang membawa dampak perubahan. Orang berbondong-bondong segera me-Ramadhan-kan penampilannya, meski lupa menghadirkan nuansanya di dalam hati. Ramadhan alpa dalam presensi ibadahnya. Padahal, Rasulullah banyak sekali mengingatkan kita soal ini.

“Mungkin hasil yang diraih seorang shaum (yang berpuasa) hanya lapar dan haus, dan mungkin hasil yang dicapai seorang yang shalat malam (Qiyamul lail) hanyalah berjaga.” (HR. Ahmad dan Al Hakim).

Mungkin percuma, puasa yang kebanyakan kita jalani. Hanya menyisakan lapar dan lelah saat beribadah. Sebab, kita justru lebih sibuk mengganti topeng, dari situasi yang satu ke situasi yang lain. Mengepaskan. Mengganti. Dan mengepaskan lagi hingga benar-benar kita disebut orang dengan gelar yang kita kehendaki. “Aiih, cantiknya.”, “Pemuda yang sholih.”

Rasulullah Saw menaiki mimbar (untuk berkhotbah). Menginjak anak tangga (tingkat) pertama beliau mengucapkan, “Aamin”, begitu pula pada anak tangga kedua dan ketiga. Seusai shalat para sahabat bertanya, “Mengapa Rasulullah mengucapkan “Aamin”? Beliau lalu menjawab, “Malaikat Jibril datang dan berkata, “Kecewa dan merugi seorang yang bila namamu disebut dan dia tidak mengucap shalawat atasmu” lalu aku berucap “Aamin.” Kemudian malaikat berkata lagi, “Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup bersama kedua orang tuanya tetapi dia tidak sampai bisa masuk surga.” Lalu aku mengucapkan “aamin”. Kemudian katanya lagi, “Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan (hidup) pada bulan Ramadhan tetapi tidak terampuni dosa-dosanya.” Lalu aku mengucapkan “Aamin.” (HR. Ahmad).

Kira-kira, saat Allah Swt. membalas semua amal dan menyerahkan kitab catatan perbuatan semua manusia, topeng apalagi yang akan digunakan? Memelas ampunan dan pembebeasan dari api neraka, sekaranglah saatnya. Sebelum semuanya terlambat. Karena nasi, belum menjadi bubur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s