Surat dari Negeri Puasa

Oleh Lufti Avianto

*) Ditulis untuk Dompet Dhuafa Republika

Kepada

Sahabatku, Mat Ali

Di Negeri Endonesya

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Ingin sekali kukabarkan keindahan Ramadhan di Negeri Puasa kepada sahabatku di Negeri Endonesya. Kami, rakyatnya yang lelaki disebut shoo-imin, sementara yang wanita disebut shoo-imat, selalu gembira ketika Ramadhan tiba dan merasa sedih bila ia berakhir. Mudah-mudahan, Mat Ali di Endonesya juga begitu.

Kami semua berpuasa dengan sebenar-benarnya puasa, lho. Tak ada yang ngumpet-ngumpet buka atau pura-pura puasa. Semuanya puasa. Puasanya, tak hanya menahan lapar-dahaga atau syahwat seksual saja, tetapi juga penglihatan, pendengaran, pembicaraan, perasaan dan pikiran kami. Seluruh anggota tubuh pun berpuasa. Hebatnya lagi, kami menjalankannya dengan hati riang dan ikhlas untuk mengharap ridho Allah Swt.

Apalagi hari-hari kami, selalu diisi dengan banyak ibadah. Kami di sini, saling mengingatkan untuk selalu tilawah al-Quran, bersedekah, shalat tarawih berjamaah bahkan yang paling seru, kami saling mengundang untuk berbuka puasa bersama. Seru bukan? Oh ya, tak lupa juga saat-saat sepuluh hari terakhir, kami beritikaf bersama di masjid raya yang berada di tengah Kota Puasa.

Ada satu yang pasti jarang ditemui di Negeri Endonesya. Saya yakin ini kawan. Sebab di negeri kami, semua perusahaan meliburkan para karyawannya selama bulan Ramadhan. Karena sebelas bulan sebelumnya, perusahaan sudah mempersiapkan ini. Jadi, para pekerja seperti kami, juga para pengusaha, bisa beribadah dengan khusyuk dan tenang. Hebat, bukan?  Wah, pokoknya, suasana Ramadhan di sini sangat luar biasa.

Oh iya, ada hal yang mau saya tanyakan, sahabat. Bagaimana soal penyaluran zakat kami di Endonesya? Semoga lancar-lancar saja ya. Bukan apa-apa, kami di sini selalu miris bila melihat dari layar kaca perihal saudara seiman kami yang berebut menerima zakat atau sedekah di sana. Berebut sembako atau uang yang nilainya tak seberapa. Sampai ada yang terluka atau korban jiwa. Aduh, pilu hati ini rasanya.

Insya Allah, tahun ini, kami akan kembali mengekspor zakat dan sedekah Negeri Puasa ke negeri kalian dalam jumlah dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Rp 2 trilyun. Tapi, jangan lupa laporan keuangannya ya, agar tetap terjaga transparansinya. Soalnya, kami suka khawatir bila melihat berita tentang korupsi di Endonesya yang semakin hari semakin mengkhawatirkan saja. Seolah-olah, korupsi itu sudah merasuki semua sendi kehidupan di Endonesya. Apalagi kabar terakhir, para koruptor itu mendapat remisi dan grasi ya?

Karena itulah, kami di sini selalu mempertanyakan laporan keuangan penyaluran zakat dan sedekah negeri kami. Maaf ya kalau terlihat cerewet. Bukan kami tak percaya dengan amil dari negeri kalian, bukan pula kami menuduh dana zakat dan sedekan kami dikorupsi. Na’udzubillah. Kami tidak sampai berpikir seperti itu. Ini kami lakukan hanya untuk menjaga profesinalisme amil dan menambah rasa percaya para muzaki agar bisa saling percaya. Bukan begitu?

Okelah kalau begitu sahabat. Surat ini, saya akhiri dulu. Saya terlalu banyak bercerita. Saya berharap, tahun depan kalian bisa berkunjung ke Negeri Puasa saat Ramadhan. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang beruntung agar bisa dipertemukan Ramadhan tahun depan. Amiin.

Wassalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

22 Ramadhan 1431 H

Sahabatmu, Abdullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s