Bekal Ramadhan

Oleh: Lufti Avianto

*) Ditulis untuk Dompet Dhuafa Republika

Hari ini, masih saja terlihat sebagian (besar) kita mengejar target tilawah dengan blackberry-nya, sementara al-Quran teronggok dilupakan. Padahal, Ramadhan sudah memasuki sepuluh hari yang terakhir. Masih juga terlihat, mayoritas di antara kita, beri’tikaf di mall dan pasar seraya memilah baju dan aksesoris yang akan dikenakan saat Hari Raya. Tak ketinggalan, aneka kue dan sajian ketupat siap untuk disajikan.

Di kantor, bekerja sudah tak bergairah. Alasan ngantuk akibat kurang tidur saat sahur, atau lebih suka membicarakan, berapa kali lipat tunjangan bakal didapat. Bukan soal, berapa anak yatim yang akan disantuni dari berlipatnya tunjangan. Tidak pula suka membicarakan, apakah kita sukses beribadah di bulan mulia ini? Tak jua kunjung membicarakan tentang, apakah kita masih akan berjumpa dengan Ramadhan di tahun depan?

Inikah bekal yang kita persiapkan saat Ramadhan?

Ramadhan yang hanya satu bulan, dipersiapkan bagi hamba untuk mempersiapkan bekal dalam menghadapi sebelas bulan berikutnya. Kalaulah kita mempersiapkan bekal harta, tentulah itu akan habis. Lihat saja tunjangan hari raya, pasti sudah ludes untuk persiapan menyambut Idul Fitri, mudik, dan bagi-bagi angpao untuk sanak-famili. Bukan bekal itu yang dimaksud.

“… Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. al-Baqarah: 197).

Mengapa harus berbekal? Perjalanan seorang hamba mengarungi hidup berdurasi sangat pendek dan sangat panjang. Sangat pendek ketika berada di dunia yang diibaratkan para ulama seperti menyeberang jembatan saja. Itula kehidupan dunia. Sangat panjang, sebab akhirat yang kekal lagi abadi, dekat dengan pelupuk mata setiap hamba. Di sanalah kita semua akan kembali, entah berakhir bahagia ataukah sengsara. Karena itulah kita berbekal dengan sebaik-baik bekal, yaitu takwa.

Bekal takwa adalah bekal yang kekal. Di dunia, bekal inilah yang akan menjaga kita dalam mengarungi kehidupan yang keras-menggilas, dimana halal-haram, hitam-putih, dan benar-salah, sangat tipis perbedaannya. Takwalah yang akan menjaga kita agar terhindar dari apa yang dimurkai-Nya.

Dan takwa jugalah yang Allah swt. harapkan melalui ibadah puasa Ramadhan ini. “…agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183). Dengan takwa pula, yang mengindikasikan kita mendapat kemenangan atau tidak. “Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan.” (QS. al-Baqarah: 52).

Meski begitu, takwa tidak hanya akan bertahan sebatas sebelas bulan berikut di dunia saja, tetapi juga sebagai bekal untuk kita mudik ke Kampung Akhirat. Bekal takwa yang akan menemani diri kita saat melakukan perjumpaan manis dengan Allah Swt pada Hari Pembalasan. Catatan amal diberikan dari sisi kanan, seraya Dia menyebut kita dari golongan umat Muhammad saw. sekaligus pengakuan-Nya bahwa kita merupakan hamba-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s