Kembali ke Fitrah

Oleh: Lufti Avianto

*) Ditulis untuk Dompet Dhuafa Republika

Air mata menetes. Keharuan menyeruak dari bilik hati yang bening. Hati yang ditempa dengan ibadah nonstop 24 jam di bulan suci. Kini, bulan Ramadhan harus pergi meninggalkan kaum Muslimin. Meninggalkan manusia dengan segenap penyesalan, akankah Ramadhan kali ini dihayati dengan sepenuh jiwa?

Perpisahan dengan Ramadhan sudah berada di pelupuk mata. Sudah dekat. Namun, kepergiannya meninggalkan pesan baru, bahwa manusia kini mulai menapaki tapak-tapak fitrahnya sebagai seorang hamba, seperti saat-saat pertama diciptakannya. Titik dimana Allah menciptakan kita dengan bersih dan suci.

Kalau kita cermati, kata ‘fitrah’ diambil dari kata fathara yafthuru artinya menciptakan. Dalam setiap penciptaan manusia, tak pernah terbersit niat buruk dari Allah swt terhadap makhluk-Nya. Karena sejatinya, Dia menginginkan kesempurnaan manusia sebagai ciptaannya sebagaimana permulaan diciptakannya. Titik fitrah.

“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariat: 56).

Namun, karena sepanjang kehidupan manusia kerap lalai, lupa dan salah itulah yang menjauhkannya dari titik fitrah seorang hamba. Akhirnya, bergelimang dosa akibat kemaksiatan yang menahun.

Kini, kita dikembalikan kepada fitrah diri. Melalui tuntunan Nabi dalam menjalani Ramadhan, kita dituntun seirama dengan fitrah itu. Bila tak seirama dengan tuntunan sang baginda  Rasulullah saw., terpelesetlah kita kepada kesia-siaan. Padahal semua rangkaian ibadah Ramadhan adalah tangga kembali menuju fitrah. Sayangnya, tak semua hamba bisa menapakinya menuju kesuciannya. Mengapa?

Tanyakanlah setiap hati kita. Apakah kita sudah optimal beribadah di bulan ini? Seberapa besar semangat kita mendirikan shalat malam, bersedekah, atau tilawah al-Quran? Sudahkah kita serius dalam memuasakan perut, tenggorokan, kemaluan, mata, telinga, pikiran dan hati kita? Dan, sudah berapa Ramadhan kita yang berlalu, tapi selalu berakhir dengan penyesalan?

Banyak orang masuk Ramadhan dengan semangat di awal-awal saja, sementara di akhir-akhir Ramadhan, terkapar dan tak lagi berdaya melanjutkan ibadahnya. Yang menyedihkan, banyak di antara kita yang menyibukkan diri berbelanja menghamburkan tunjangan hari raya di mal dan swalayan. Masjid yang di awal Ramadhan penuh, kini sepi kembali.

 “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali.” (QS an-Nahl: 92).

Allah Swt. melarang kita berbuat kesia-siaan seperti perempuan pemintal benang. Di Ramadhan, kita berlomba-lomba beribadah, lepas Ramadhan justru perbuatan maksiat kita lanjutkan. Apa yang tersisa dari Ramadhan kita?

Dan melalui Ramadhan, kita dituntun Yang Mahakuasa kembali kepada fitrah diri. Ibadah Ramadhan telah menempa iman sehingga ia kuat. Dan zakat, menyucikan kekerdilan nafsu terhadap dunia yang menipu, sehingga bersih kembali.

Dan fitrah itu, semoga saja bisa dipertahankan, hingga kita bertemu dengan Ramadhan kembali, atau kita menghadap Yang Mahasuci.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s