Kemenangan Sejati

Oleh: Lufti Avianto

*) Ditulis untuk Dompet Dhuafa Republika

Hari Kemenangan itu datang, bertepatan dengan berakhirnya bulan penuh berkah, Ramadhan.  Sambutan atas kemenangan yang fitri, bergema di mana pun kaum Muslimin berada dengan takbir, tahmid, takbir dan tahlil. Namun, apa hakikat kemenangan itu sesungguhnya?

Yang jelas, bukan kemenangan atas pembebasan diri dari pembatasan makan dan minum dengan ketupat dan opor ayam. Dan kebebasan untuk tak berempati dengan pakaian dan perhiasan pada Hari Raya di hadapan sesama yang kurang beruntung. Bukan itu kemenangan sejati.

Kemenangan seorang hamba yang meraih gelar takwa, adalah kemenangan keimanannya atas kekufuran. Kemenangannya atas orientasi akhirat ketimbang urusan dunianya. Kemenangan atas karakter diri sebagai pribadi yang sabar dan penuh pengendalian diri. Dan kemenangan atas rasa kepedulian terhadap sesama. Inilah kemenangan sejati yang dimaksud.

Kenapa keimanan itu pasti menang? Karena, keimananlah yang menghidupkan hari-hari seorang Muslim. Keimanan atas Allah azza wa jalla yang menggerakkan kehidupannya untuk beramal dan beraktifitas dengan produktif. Memperbaiki diri dan membangun masyarakatnya dengan amal yang kontinyu.

“Wahai orang-orang yang berimana! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerukan kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS: 8: 24).

Kemenangan akhirat adalah keberhasilan Ramadhan seorang Muslim saat melatih dirinya memprioritaskan Allah Swt. yang kemudian diimplementasikan di waktu yang akan datang. Dengan ibadah itu, ia menyadari sepenuh hati bahwa ia tengah mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah matinya. Dan itulah yang abadi.

“Wahai orang-orang yang beriman!mengapa apabila dikatakan kepadamu ‘berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,’ kamu merasa berat dan tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (QS: 9: 38).

Hari Kemenangan itu, telah mewariskan pribadi yang sabar penuh pengendalian diri. Tak mudah marah karena begitulah Ramadhan telah mengajarkannya pada sebulan penuh hari-harinya. Mengendalikan diri dari perbuatan yang dibenci, bahkan diharamkan-Nya. Ada remnya, setiap kali bertemu dengan perkara syubhat, makruh dan haram. Ia mampu menahan dirinya.

Dan kemenangan lainnya, adalah kemenangan rasa empati dan kepedulian sosial. Rasa masa bodoh dan tak acuh, sirna dilumat kepedulian. Semua ibadah Ramadhannya telah mengikis egoisme diri. Puasanya, telah terbiasa dengan acara berbuka dan sahur bersama dhuafa. Shalat tarawih telah melatihnya kebersamaan. Zakat dan sedekahnya, tidak hanya membersihkan dirinya, juga telah mengikis kikir dan bakhilnya serta berbagi kebahagiaan bersama mustahik.

Kalau kemenangan ini yang kita maksud, itulah kemenangan sejati yang telah kita raih di bulan suci Ramadhan. Semoga kita meraih kemenangan sejati di Hari Raya nan fitri. (Insya Allah).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s