‘A9ama’ Saya Adalah Jurnalisme

Oleh : Lufti Avianto

Kalaulah ada ‘agama’ baru, mungkin itu adalah jurnalisme. Dan mungkin, Bill kovach dan Tom Rosentiel adalah pembaharunya, sementara Andreas Harsono adalah salah satu juru dakwahnya.

Angka ‘9’ dalam judul buku ini, merujuk pada 9 Elemen Jurnalisme yang menjadi pedoman wartawan

NABI DAN RASUL dalam keyakinan agama Samawi, bertugas menyampaikan kebenaran kepada masyarakat. Kebenaran tentang wahyu Tuhan yang bersifat mutlak. Setelah nabi dan rasul tiada, lahirlah pembaharu dan juru dakwah di tengah masyarakat yang meneruskan risalah kepada umat manusia.

Ada ‘kemiripan’ tugas antara para utusan Tuhan itu dengan para wartawan dalam mengemban tugas jurnalisme. Wartawan juga menyampaikan kebenaran. Tapi kebenaran yang mana? Bukankah kebenaran punya sudut dan cara pandangnya sendiri? Dan wartawan sendiri bahkan, punya caranya sendiri-sendiri dalam menyampaikan ‘kebenaran’ yang dimaksud.

Kebenaran dalam sisi jurnalisme, memang berbeda dengan kebenaran ‘langit’ versi agama. Kebenaran yang disampaikan oleh jurnalisme, menurut kurator Nieman Fellowship di Universitas Harvard Bill Kovach dan pegiat Committee of Concerned Journalists Tom Rosentiel, merupakan kebenaran fungsional yang disepakati dalam masyarakat.

Hakim memutus perkara di pengadilan, polisi mengusut kejahatan, hukum dan perundang-undangan dibuat serta pajak-pajak diatur dan dipungut. Meski dalam kenyataannya, hakim bisa saja keliru, polisi bisa salah tangkap, dan kasus ‘permainan’ pajak bakal terus terjadi, seperti dalam kasus teranyar dengan aktor dari Dirjen Pajak Gayus Tambunan. Inilah kebenaran fungsional yang berlaku dalam kehidupan.

Jurnalisme juga melakukan hal yang sama; menyampaikan kebenaran fungsional kepada masyarakat. Misalnya tentang fluktuasi nilai saham di kantor bursa, memberitakan kasus korupsi, skandal pejabat, kurs mata uang, ramalan cuaca, hasil pertandingan olahraga, atau harga kebutuhan pokok, seperti cabai yang belakangan meroket.

Kebenaran yang dibentuk media, dilakukan secara berlapis. Lapisan pertama akan dilengkapi dengan lapisan kedua, ketiga dan seterusnya. Kovach dan Rosentiel menyontohkan dalam sebuah peristiwa kecelakaan lalu lintas.

Hari pertama, wartawan akan memberitakan kejadian itu; waktu, tempat, kondisi dan identitas korban, jenis kendaraan, nomor polisi, dan sebagainya. Hari kedua, informasi kian bertambah. Ada keterangan dari polisi tentang penyebab kecelakaan atau hasil olah TKP, Tempat Kejadian Perkara. Atau tanggapan dari keluarga korban. Atau, mungkin juga ada koreksi. Maka pada hari berikutnya, koreksi itu yang diberitakan. Informasi kian lengkap, saat ada pembaca yang mengirimkan surat pembaca, atau tanggapan melalui kolom.

Jadi, kebenaran dibentuk hari demi hari. Lapisan demi lapisan.

Sedemikian pentingnya tentang kebenaran ini, Kovach dan Rosentiel mengurutkan ‘kebenaran’ sebagai elemen pertama dalam Sembilan Elemen Jurnalisme, meski setiap elemen memiliki kedudukan yang sama. Ke-9 elemen yang dirumuskan itu, merupakan kesimpulan dari diskusi dan wawancara Committee of Concerned Journalists, sebuah organisasi di Washington DC yang rajin melakukan riset dan kajian tentang media, melibatkan 1.200 wartawan Amerika dalam kurun tiga tahun.

Sebagaimana agama yang membawa kebenaran dan kemaslahatan bagi umat, jurnalisme juga berusaha demikian. Dalam bahasa lain, Andreas berpendapat, “Saya percaya bahwa jurnalisme sangat berguna bagi kebaikan masyarakat.” Sebenarnya, ungkapan itu datang dari Kovach. Mantan wartawan yang berkarir selama 18 tahun di The New York Times itu berujar, “Makin bermutu jurnalisme di dalam masyarakat, makin bermutu pula informasi yang didapat masyarakat yang bersangkutan. Terusannya, makin bermutu pula keputusan yang akan dibuat.”

Menggugat Mutu Jurnalisme Kita

Dalam buku ini, seorang Andreas Harsono, mantan wartawan yang pernah bekerja di The Jakarta Post,The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur) dan Pantau (Jakarta) ini, menumpahkan keresahannya terhadap perkembangan media massa di Tanah Air. Terutama terhadap beberapa praktik jurnalisme yang lumrah dilakukan, dimana jurnalisme menjadi tumpang tindih dengan propaganda, hiburan, iklan dan seni.

Praktik By Line atau penulisan nama wartawan pada setiap berita. Andreas menuliskan pengalaman Kovach saat bertanya dengan 15 wartawan Kompas pada 15 Desember 2003. “Mengapa suratkabar Anda tak menggunakan by line? Mengapa di halaman satu tak terlihat by line?”

By line penting agar pembaca bisa membedakan mana wartawan yang menulis dengan baik dengan yang buruk. Dengan by line, media yang bersangkutan bisa membangun akuntabilitasnya kepada masyarakat. Sehingga wartawan selalu waspada dalam menuliskan laporannya. Bukan sebaliknya, meletakkan seluruh tanggung jawab itu pada institusi media tempat wartawan bekerja.

Firewall atau pagar api. Anda bisa lihat pagar ini dalam setiap desain media, suratkabar misalnya, sebagai sebuah garis tipis yang membedakan; mana berita dan mana iklan. Jadi pembaca bisa jelas memahami, iklan itu iklan. Berita itu berita.

Dalam praktik jurnalisme di sejumlah negara, garis ini merupakan hal yang disakralkan. Tengoklah sejumlah harian di Amerika, seperti Financial Times, The New York Times atau Wall Street Jorunal. Atau di Asia, semisal The Bangkok PostAsahi Shimbun (Tokyo), atau South China Morning Post (Hongkong).

Ironinya, kesadaran menggunakan garis suci ini, masih rendah. Andreas menyebut sejumlah media massa ternama di Tanah Air yang belum menerapkan garis lambang pagar api; Kompas, Tempo, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Republika, The Jakarta Post. Di daerah, ada Suara Merdeka (Semarang), Jawa Pos (Surabaya), dan Singgalang (Padang).

Independensi jurnalis. Andreas menulis pengalaman Kovach saat menulis tentang sahabatnya, Homer Peas yang berujung pahit. Peas dan Kovach sempat adalah teman main football dan sempat masuk dinas militer bersama pada 1951 saat Perang Korea pecah.

Setelah keluar dari dinas militer, Kovach jadi wartawan sementara Peas masuk ke politik dan jadi aktivis Partai Demokrat. Saat 1960, saat Richard Nixon bertanding melawan John F. Kennedy pada pemilu presiden, Peas menjadi tim sukses Kennedy dan terlibat dalam ‘pembelian’ suara para veteran perang dengan sebotol whiskey.

Kovach menulis itu, termasuk keterlibatan sang sahabat. Akibatnya, Peas diperiksa polisi, diadili dan terbukti bersalah. Hukumannya, Peas boleh memilih masuk penjara atau masuk dinas militer lagi. Peas pun memilih yang terakhir. Enam tahun kemudian, 1966, Peas tewas dalam sebuah pertempuran dekat Bien Dien Phu dengan bayonet.

Bagaimana sikap Kovach bila ia menghadapi pilihan seperti itu lagi. Kovach bijak menjawab, “You and I are journalist! Tugas kita adalah memberitahu setiap warga kalau ada penyalahgunaan kekuasaan. Warga harus tahu apa yang salah, apa yang benar, sehingga mereka bisa mengambil sikap dengan informasi yang lengkap.”

Praktik ‘amplop’ -suap terhadap wartawan. Memang bukan amplop yang menjadi soal, tapi isi dari amplop itu yang bisa membuat wartawan kehilangan kehormatannya. Belakangan, praktik amplop sudah sedemikian berkembang dengan transfer, pemberian proyek atau jaringan bisnis tertentu buat wartawan dari narasumbernya.

Ironi praktik amplop memang tak bisa dipisahkan dengan kesejahteraan yang didapat wartawan dari institusi media dimana ia bekerja. Kerja rodi, tapi gaji mepet, sementara kebutuhan hidup tak bisa dikompromikan. Kalau sudah begini, ada saja wartawan yang menjual harga dirinya dengan menerima amplop, isi amplop itu sentu saja.

Dalam buku ini, Andreas melontarkan kritik tajam terhadap ‘media Palmerah’, terminologi yang dia pakai untuk menyebut perusahaan media di Jakarta. Kebetulan,  konglomerat kakap pemilik media sebagian besar berada di kawasan sekitar Jalan Palmerah (Kompas Gramedia, TVRI, kelompok Tempo dan Jawa Pos Grup), Jalan Kedoya (Media Indonesia dan Metro TV) hingga Jalan Gatot Subroto (SCTV).

Andreas resah dengan praktik jurnalisme yang mereka lakukan. Mereka cenderung berorientasi komersial secara berlebihan, belum menggunakan praktik standar jurnalisme (by line, firewall, liputan media independen), dan memperlakukan jurnalis layaknya pekerja produksi alias kuli yang diberi target setiap hari dengan kuantitas berita, dengan memberi sedikit perhatian terhadap kualitas.

Saking geramnya soal praktik ampol di kalanga wartawan, Andreas menantang langsung Dahlan Iskan, pemilik Jawa Pos Grup, “Beranikah dia mendeklarasikan Kelompok Jawa Pos bebas amplop? Saya berani bertaruh tidak berani karena mereka belum sanggup membayar wartawan secara layak.”

Dengan nada lain, Andreas juga menulis pada halaman 174, “Cuma saya memang kesal lihat mereka tak berbuat lebih banyak sesudah limat tahun masa demokratisasi ini. Sudah ada kemajuan tapi terlalu pelan. Lebih cepat gerak bisnis mereka daripada gerak redaksionalnya. Ini bukan keluhan pribadi saya lho!”

Dalam bagian ‘Dinamika Ruang Redaksi’, Andreas menulis surat secara khusus bagi Wakil Pemimpin Redaksi Gatra, Hedy Lugito. Dalam tulisan berjudul ‘Surat untuk Gatra’ itu, Andreas menyarankan beberapa perubahan majalah Gatra agar memberikan porsi lebih untuk analisis dan esai.

Alasannya, Jakarta atau Indonesia tepatnya, tak memiliki majalah analisis. Kalau London punya The Economist, New York punya The New Yorker, Jakarta baru punya majalah berita seperti TempoTrust, termasuk Gatra sendiri. Selain itu, perkembangan teknologi telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat yang serbainstan melalui media ala dotcom. Nah, jawaban bagi eksistensi media massa cetak seperti majalah Gatra, menurut Andreas mengutip World Association of Newspaper, adalah analisis, analisis dan analisis. Terhadap perubahan itu, ada perubahan lain yang bakal dilakukan secara simultan, termasuk perubahan rubrikasi dan kulit muka majalah yang sudah berusia 16 tahun itu.

Buku ‘Agama’ Saya Adalah Jurnalisme, memang lebih banyak terinspirasi dari buku Sembilan Elemen Jurnalisme dan Bill Kovach, guru Andreas sendiri saat mengikuti Niemen Fellowship on Journalism di Harvard. Buku yang terdiri dalam empat kategori, Laku Wartawan (Code of Conduct), Penulisan (writing), Dinamika Ruang Redaksi (Newsroom Diversity) dan Peliputan (Reporting), memudahkan pembaca untuk memahami dan memantau praktik jurnalisme yang ada sekarang.

Dan pada akhirnya, mutu jurnalisme kita akan dipertanyakan dengan pertanyaan paling penting untuk masyarakat demokratis, apakah pers yang independen akan bertahan hidup? Jawabannya juga tergantung pada, apakah wartawan punya kejelasan dan keyakinan untuk independen? Dan apakah sebagai anggota masyarakat, kita peduli?

Anda sendiri tentu punya jawabannya.

====================================

Judul           : ‘Agama’ Saya Adalah Jurnalisme

Penulis       : Andreas Harsono

Penerbit    : Pustaka Kanisius, Yogyakarta

Tebal           : 268 halaman

Harga          : Rp 50.000

NB                : Saya mendapatkan gratis buku ini dari penulisnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s