Hiroshima

Mungkin saya terlambat. Sangat terlambat ketika baru saja menyelesaikan sebuah buku fenomenal dalam 100 tahun terakhir;Hiroshima, Ketika Bom Dijatuhkan karya John Hersey. Terlambat membaca sebagai seorang jurnalis sebuah karya di jagat jurnalistik yang fenomenal dan bermutu. Buku ini diterjemahkan dari buku berbahasa Inggris yang berjudul Hiroshima.

Naskah ini pernah didiskusikan pada kelas Jurnalisme Sastrawi di Yayasan Pantau angkatan ke-18 medio Agustus 2010. Saya ikut di situ sebagai salah satu dari 22 peserta yang terpukau dan terkesima. Kagum lebih tepatnya saat dua orang pengampu, Janet Steele, guru besar di George Washington University dan Andreas Harson, wartawan senior, menceritakan kisah naskah ini, dalam kelas yang berbeda.

Sebelumnya saya sudah mencari buku ini, tetapi baru mendapatkannya saat main ke Pantau, April lalu.

The New Yorker, sebuah majalah berita bergengsi di Amerika, menyajikan utuh naskah dalam satu terbitannya pada Agustus 1946. Bisa dibayangkan, kalau dalam satu terbitan majalah, hanya ada satu naskah saja? Seberapa penting naskah ini sehingga dimuat utuh, tidak serial? Nah, The New Yorker melakukannya.

Setahu saya, naskah ini juga dinobatkan sebagai naskah terbaik jurnalisme Amerika pada abad ke-20 oleh panel wartawan & akademisi Universitas Colombia dalam 100 tahun terakhir.

Yang saya kagumi dari naskah ini, terlepas dari sejarah pengeboman Hiroshima yang sangat menarik, adalah teknik Hersey dalam mengumpulkan bahan liputannya. Snow Ball atau teknik bola salju. Hersey menemui satu demi satu narasumbernya, lalu mewawancarainya. Dari narasumber itu, ia menemui narasumber lain berdasarkan informasi dari narasumber pertama, lalu mewawancarainya. Begitu seterusnya hingga ia menemui ratusan orang dan memilih hanya enam orang tokoh utama dalam kisahnya.

Enam orang ini, diceritakan secara runut sesaat sebelum bom meledak hingga masa tanggap darurat. Deskripsinya halus, ceritanya meloncat dari satu tokoh ke tokoh yang lain, mirip gaya pengisahan sebuah film. Adegan satu digambarkan hidup dengan adegan tokoh lain, sehingga mencapai klimaks di bagian tengah dan landai di bagian akhir.

Saya rekomendasikan buku ini, yang dijual Penerbit Komunitas Bambu seharga Rp 45 ribu, sebagai bahan bacaan yang bermutu. Juga untuk wartawan muda seperti saya untuk melihat teknik penggalian bahan, reportase yang baik dan cara menulis panjang yang memikat dengan teknik naratif. Sungguh sebuah karya jurnalistik yang baik, ditulis oleh seorang jurnalis yang sebelumnya memperoleh penghargaan Pulitzer atas novelnya yang berjudul A Bell For Adano.

Saya sengaja tak menceritakan isi naskah ini. Silakan anda membeli dan menikmati tulisan panjang nan memikat ini😀

========

Tentang Hersey (Saya kutip dari Denung)

John Hersey dilahirkan pada 17 Juni 1914 di Tientsin, China oleh sepasang missionari Roscoe dan Grace Baird Hersey. Dia tinggal di Tientsin sampai umur 10 tahun dan kembali ke Amerika bersama orang tuanya. Hersey mengikuti sekolah Yale hingga di Cambridge. Dia peroleh jabatan sebagai sekretaris untuk Sinclair Lewis pada musim semi 1937, dan pada musim gugur, dia mulai bekerja pada majalah Time.

Dua tahun kemudian dia dipindahkan ke majalah Time’s di Biro Chungking. Selama perang dunia ke-2 dia bertanggungjawab untuk meliput peperangan di Eropa (Sicily) dan Asia (Guadalcanal), menulis artikel untuk Time, Life, dan The New Yorker. Artikel pertama Hersey untuk The New Yorker adalah tulisan tentang John F.Kennedy dan PT-109 rescue, yang mana kemudian dicetak ulang di bagian Reader’s Digest.

Buku pertama Hersey, Men on Bataan (1942) merupakan potret patriotic Jenderal Douglas MacArthur dan tentaranya di Pacific pada permulaan perang dunia ke-2. Buku keduanya, Into the Valley (1943), menceritakan pertempuran di Guadalcanal dari perspektif para serdadu. Di Guadalcanal, Hersey telah menjadi bagian, dibanding sebagai reporter. Unit yang diikutinya datang saat situasi baku tembak dan menderita dengan banyak penyebabnya.

Hersey telah dilibatkan dalam misi ini sebagai “stretcher bearer” atau pembawa usungan (semacam keranda) dan sebelumnya direkomendasikan oleh Angkatan Laut menolong pada yang terluka. Hersey selanjutnya dipindahkan ke Mediterranean Theater, dan dia melaporkan sekutu pada invasi dan okupasi Pulau Sisilia.

Dia memenangkan Pulitzer Prize untuk novelnya, A Bell for Adano (1944), fiksionalisasi atas okupasi pemerintah atas satu kota di Italia. (The New York Times menorehkan Pulitzer bagi Hersey pada terbitan mereka tanggal 8 Mei, 1945 yang menandai akhir peran di benua Eropa)

Pada tahun 1944-45, Hersey ditempatkan di Moscow oleh Time, tetapi setelah peran Pacific berakhir dia menerima tugas untuk melingkupi wilayah China dan Japan, dengan dukungan pembiayaan oleh Time dan The New Yorker.

========

Beberapa artikel tentang naskah Hiroshima dan John Hersey:

http://ajisolo.wordpress.com/tag/sastrawi/

http://sejarah.kompasiana.com/2011/03/06/hiroshima-ketika-bom-dijatuhkan/

http://blog.liputan6.com/2008/08/06/hersey-hiroshima-kegilaan-manusia/

http://denung.wordpress.com/2010/04/02/%E2%80%9Chiroshima%E2%80%9D-gaya-hersey-dan-dampaknya/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s