Nyambi Jadi Penulis?

Oleh: Lufti Avianto

Di negara ini, profesi sebagai penulis belum bisa dihargai. Kalau mau melihat secara jujur, royalti yang diterima belum berpihak bagi kesejahteraan para penulis. Kisaran royalti, hanya sampai 20% saja, tergantung dari nama besar penulis yang bersangkutan. Bila sudah terkenal, bisa nego lebih lanjut dengan pihak penerbit. Tapi kalau newcomer, nilai 20% sudah jauh lebih cukup karena di sebagian besar penerbit, masih ada yang menawarkan royalti di bawah nilai itu.

Kalau pun ada yang berhasil meraurup keuntungan sebagai penulis, masih bisa dihitung dengan jari saja. Misalnya, Habiburrahman El-Shirazy yang kabarnya mendapatkan royalti Rp 2 milyar lebih dari hasil karyanya, novel Ayat-Ayat Cinta. Jumlah itu belum termasuk keuntungan novel yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dan keuntungan dari pembuatan filmnya.

Itu yang beruntung. Bila tidak, ada penulis yang hanya mendapatkan beberapa ribu saja dalam pembayaran royalti per enam bulannya. Sayangnya, kondisi ini sangat kontradiksi dengan beberapa negara lain yang sudah bisa menghargai profesi sebagai penulis. Seperti JK. Rowling di Inggris yang kaya- raya dari serial penyihir cilik Harry Potter. Bahkan kabarnya, kekayaan Rowling melebih ratu Inggris sekali pun!

Atas fakta ini, bukan berarti jumlah penulis di republik ini sedikit. Sederet nama beken dalam jagad kepenulisan pun lahir. Dan rata-rata mereka menjadi penulis sebagai profesi sambilan. Seperti Tere Liye, nama pena dari Darwis seorang wartawan harian sebuah harian nasional,

So, jadi penulis itu bisa dilakukan sebelum kita menjadi apa pun. Bisa jadi dokter, insinyur, guru, konsultan, wartawan, seniman atau apa pun yang kamu mau, tapi tetap bisa menjadi penulis. Gimana caranya?

 

Pikir ulang ikut pelatihan

Boleh aja kalau sobat sekalian mau ikutan latihan atau workshop kepenulisan. Tapi, itu hanya memicu motivasi kita aja kok. Apalagi, kalau biaya pelatihan itu tak terjangkau alias mahal, mending nggak usah aja. Itu aja kuncinya. Jadi pikir berulang kali kalau mau ikutan pelatihan menulis yang mahal. Lain halnya, kalau biaya tak menjadi sersoalan bagi kamu. Intinya, bijak dalam memilah pelatihan yang kamu butuhkan.

Ikut komunitas kepenulisan, lebih baik

Memang komunitas semacam ini masih kalah banyak jumlahnya dengan komunitas lainnya. Dengan bergabung di komunitas kepenulisan, kamu bisa menambah teman, ilmu, dan yang paling penting, bisa menjaga semangat dan motivasi kamu dalam menulis. Selain itu, sudah menjadi rahasia umum, lho, kalau di komunitas juga sering bagi-bagi proyek menulis. Asyik kan?

Forum Lingkar Pena (FLP), adalah salah satu komunitas kepenulisan yang sudah memiliki banyak cabang. Kamu bisa mempertimbangkan untuk bergabung. Bagaimana kalau komunitas yang dimaksud terlalu jauh? Atau kita tidak ada waktu untuk ikut bergabung? Tenang sob, kamu bisa ikutan gabung dalam mailing list (milis) kepenulisan. Jumlahnya sudah banyak kok.

Resepnya cuma menulis

Jurus jitu jadi penulis itu cuman tiga. Ini juga yang jadi ‘barang dagangan’ pelatihan. Semua mengiming-imingi dagangan yang sama, yaitu menulis, menulis dan menulis. Sebenarnya, kamu bisa praktik menulis secara otodidak. Menulis saja. Itu kuncinya.

Menurut salah seorang penulis terkenal, pekerjaan menulis atau menuangkan ide sejatinya adalah membua retakan-retakan kecil dalam ‘bendungan’ di otak kita. Terkadang, bagi para penulis pemula, proses ini menjadi tidak mudah karena sulitnyamenuangkan ide dalam sebuah tulisan. Nah, dalam proses menulis yang kontinyu, retakan itu menjadi semakin banyak dan akhirnya jebol bendungan yang menyulitkan kita dalam menuangkan ide itu.

Sebagai sarana berlatih, kamu bisa menulis buku harian atau blog secara rutin. Tulislah apa pun yang terlintas dalam pikiranmu. Lupakan soal teknik kepenulisan, lupakan soal diksi, lupakan soal logika tulisan, tugasmu hanyalah menulis dan menuangkan ide, itu saja. Setelah sebuah tulisan selesai, barulah tahap penyuntingan dilakukan. Baca kembali, lalu perbaiki bagian-bagian yang tidak logis atau sunting tulisanmu secara teknis, seperti penggunaan titik-koma, penggunaan huruf capital, atau penggunaan tanda baca lainnya.

Evaluasi

Dari tulisan yang sudah kamu buat, mintalah komentar dan saran dari temanmu. Atau, perhatikan komentar yang di-posting orang terhadap tulisanmu di blog. Jangan putus asa atau patah arang bila komentar miring yang kamu dapat. Sebaliknya, jangan besar kepala saat pujian kamu dapatkan.

Saatnya Go Public

Jangan simpan tulisanmu di komputermu atau membiarkan nge-jogrok di blog saja. Cobalah memberanikan diri menawarkan naskahmu ke penerbit atau kirim artikelmu ke media massa. Pelajarilah media mana saja yang menerima tulisan dari pembacanya. Kenali jenis rubriknya, apakah itu cocok dengan tulisan milik kamu. Atau di penerbit, kamu juga harus mengenali buku apa saja yang bisa diterbitkan di penerbit yang bersangkutan. Jangan sampai salah sasaran.

Misalnya, penerbit A menerbitkan buku-buku bergenre fiksi, maka jangan mengirimkan naskah di luar genre yang menjadi pakem penerbit tersebut. Mengenali jenis terbitan sang penerbit sangat penting agar naskah kamu memiliki peluang lebih besar untuk diterbitkan. Hal yang sama juga harus kamu lakukan bila mengirim artikel di media massa.

Jadi Penulis Sambilan

Liriklah bidang yang kamu minati. Bila kamu menyukai suatu bidang, tulislah naskah atau artikel yang berkaitan dengan bidang itu. Selain untuk menambah dan memperdalam pemahaman kamu, juga ada ‘efek samping’ yang positif, misalnya dapat honor tambahan. Siapa pun kamu, pelajar, mahasiswa atau karyawan, bisa memperdalam bidang yang kamu akan atau sudah geluti dengan menulis. Tetapi perlu diingat, penghargaan, royalti atau honor tambahan yang kamu peroleh, hanyalah sebuah konsekuensi positif dari upaya kamu yang sungguh-sungguh dalam menulis.

Hal ini pernah disampaikan Asrori S. Karni, salah seorang pemenang Mochtar Lubis Award, sebuah penghargaan bergengsi dunia jurnalistik pada 2008 lalu. “Yang terpenting adalah menulis dengan kesungguhan dan keikhlasan. Soal penghargaan dan hadiah, adalah dampak dari proses sebelumnya,” kata dia yang berprofesi sebagai wartawan sebuah majalah berita mingguan ini.

Jadi, meski kamu menulis sebagai kegiatan di waktu luang kamu, lakukankah dengan niat dan usaha yang sungguh-sungguh. Nisacaya, setiap tulisan yang lahir dengan proses terbaik, pasti punyah ‘jodohnya’ yang terbaik pula.

Bikin Media Yuk!

Oleh Lufti Avianto

Kegiatan mencari tahu dan memberi informasi merupakan kebutuhan komunikasi yang mendasar manusia, termasuk anak muda seperti kita, Sob. Banyak caranya, ada yang langsung dengan komunikasi tatap muka, atau yang tidak langsung, yakni dengan perantara media.

Soal media, seperti yang kalian tahu, Sob, sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat; khususnya media massa. Seperti media massa cetak, elektronik, bahkan online melalui internet. Dengan kebutuhan komunikasi manusia yang meningkat, media massa pun juga tumbuh dan berkembang.

Banyak institusi dan lembaga menerbitkan media massa mereka, termasuk lembaga pendidikan seperti sekolah atau kampus. Maka jangan heran Sob, kalau beberapa tahun terakhir ini sering banget diselenggarakan pelatihan jurnalistik untuk mahasiswa atawa pelajar.

Manfaat? Di samping memberikan keterampilan bagi generasi muda, kegiatan jurnalistik di kalangan anak muda ini juga bisa mengalihkan dari kegiatan yang negatif, seperti tawuran, penyalahgunaan narkoba, atau sikap sosial yang menyimpang. Yah, minimal nggak membentuk kamu jadi anak muda yang berkutat sama dua tempat aja: kampus/sekolah-rumah aja.

Apalagi, derasnya informasi kini nyaris nggak bisa dibendung. Kalau sudah begini, tinggal pintar-pintar kita aja memilah info mana yang cocok dan bermanfaat bagi kita. Atau, kenapa nggak kita aja yang bikin media? Biar kita bisa menularkan virus kebaikan dengan sajian informasi yang kita buat. Tentu, ala kita, anak muda yang hanif dan gaul.

Lalu, mungkin nggak sih kalau kita nerbitin sebuah media sendiri di sekolah atau di kampus? Mungkin aja. Coba ikuti deh, beberapa langkah berikut ini

  1. Tentukan terlebih dahulu jenis media yang akan kalian buat. Yang paling memungkinkan untuk para pelajar dan mahasiswa adalah tabloid, majalah atau situs berita. Alasannya? Tabloid atau majalah merupakan media massa yang waktu terbitnya lebih luang daripada suratkabar. Tabloid bisa diterbitkan pekanan atau dua pekanan, sementara majalah bisa bulanan, dua bulanan atau per semester. Intinya, soal waktu. Agar waktu peliputan tidak berbenturan dengan konsenterasi kegiatan akademismu. Sedangkan situs berita, kamu bisa membuatnya melalui blog gratisan. Tak perlu menggunakan situs berbayar, kalau ada yang gratis. Saat ini, sudah banyak blog yang menyajikan template desain yang menarik. Kamu bisa memilihnya dan siap luncur media situs kamu. Beberapa di antaranya, seperti www.blogspot.com, www.wordpress.com, www.multiply.com, dan sebagainya.
  2. Buatlah tim media atau biasa disebut redaksi sebagai awak pengelola mediamu. Sebagaimana sebuah perusahaan media, tentukan orang pada dua bagian, yakni bagian redaksi dan perusahaan. Redaksi berisi para wartawan yang meliput peristiwa lalu menulisnya dengan berita yang menarik. Di bagian ini pula, ada orang yang bertanggung jawab terhadap desain media kamu, yang biasa disebut layoutman atau desainer grafis. Sementara orang di bagian perusahaan, melaksanakan promosi, iklan, distribusi dan pemasaran konten berita.
  3. Setelah ditentukan, pilih media cetak (tabloid atau majalah) atau media online, kamu harus membuat rubrikasi, seperti yang ada di El-Ka; Sahabat Kamu, Teropong, Taktikoe, Kocakoe, dan sebagainya. Hal ini untuk membedakan jenis informasi yang dibutuhkan bagi pembaca. Lalu, tulislah berita atau hasil liputan yang telah kamu lakukan ke dalam jenis rubric yangtelah disepakati dalam rapat redaksi.
  4. Untuk ‘menghidupkan’ sebuah media, selain mengharapkan penjualan, juga harus ada iklan. Ini yang harus dicari untuk menutupi ongkos produksi. Soal iklan, kamu bisa menawarkan para penjaga kantin, toko buku, koperasi, warung makan, distro, toko buku atau toko fotokopi yang ada di sekitar sekolah atau kampus. Penawaran iklan bisa dengan cara klasik, yakni calon pengiklan membayar sejumlah uang untuk beriklan di mediamu. Atau bisa dengan cara lain, yakni beriklan dengan cara barter. Seperti warung makan yang membayar iklan dengan voucher makan gratis selama sebulan, misalnya. Atau cara lain yang bisa membuat calon pengiklan tertarik untuk beriklan di media kamu. Untuk promosi, kamu bisa melakukan bedah majalah dengan diskusi atau pelatihan jurnalistik bagi temen-temen kamu.
Dimuat di ELKA, Majalah Sabili

Meracik dan Menyesap: Sebuah Cerita Tentang Kopi

Oleh: Lufti Avianto

*) Dimuat di Rubrik Thirsty, Majalah La Cuisine

Mengutip data International Coffee Organization (ICO) 2008, ada sedikitnya 1,6 miliar cangkir kopi yang diminum tiap hari. Jumlah itu mencakup seperlima jumlah penduduk dunia. Ya, kopi memang menjadi minuman favorit jagad ini setelah air. Bahkan, di Finlandia rata-rata rakyatnya mengonsumsi sekitar 1.400 cangkir per orang per tahun!

Data lain menunjukkan, kopi merupakan komoditas nomor dua yang paling banyak diperdagangkan setelah minyak bumi. Total 6,7 juta ton kopi diproduksi sepanjang 1998-2000. FAO memperkirakan, pada 2010, produksi kopi dunia akan mencapai 7 juta ton per tahun.

Itulah data sepintas mengenai kopi, yang saban pagi menjadi minuman penyambut hari. Diminum bersama kudapan dan surat kabar, kopi menemani setiap pagi jutaan orang di seluruh belahan dunia, mungkin termasuk anda. Nah, bagi anda penikmat setia minuman berkafein ini, ada baiknya mengetahui sejumlah informasi menarik seputar kopi.

 

JENIS KOPI

Arabika (Arabica Coffee). Kopi yang berasal dari Brasil dan Ethiopia ini menguasai 70 persen pasar kopi dunia. Kopi arabika memiliki banyak varietas, seperti kopi Toraja, Mandailing, Kolumbia atau Brasilia. Arabika memiliki aroma yang khas, seperti pencampuran bunga dan buah. Meski begitu, kopi arabika terkenal dengan rasa asam dan pahitnya. Kopi jenis ini tumbuh di daerah dataran tinggi yang bersuhu sejuk dan dingin.

Robusta. Di dunia per-kopi-an, kopi robusta menguasai 30 persen pasar dunia. Kopi ini tersebar di luar Kolumbia, seperti di Indonesia dan Filipina. Secara umum, kopi robusta memiliki rasa seperti cokelat, berbau khas dan manis serta teksturnya yang lebih kasar dibandingkan arabika.

Ekselsa, Racemosa, dan Liberica (African Coffee). Merupakan jenis kopi yang berada di antara arabika dan robusta. Kopi tersebut saat ini masih dalam tahap pengembangan.

Kopi Luwak. Kopi jenis ini dihasilkan dari biji kopi arabika atau robusta yang dimakan dan diproses dengan enzim yang ada di perutn luwak. Biji dari buah kopi itu lalu terbuang bersama kotoran. Yang menarik, harga kopi luwak terkenal mahal. Dalam prosesnya, luwak hanya mencari buah kopi yang memiliki kematangan minimal 90 persen. Dengan penciuman yang tajam, luwak hanya memakan 1-2 buah dalam satu pohon. Dengan begitu, kopi yang diambil oleh luwak adalah kopi dengan nilai kematangan tertinggi, yang tentunya amat berpengaruh pada rasa kopi nantinya.

 

NIKMATNYA SECANGKIR KOPI

Kualitas kopi, dipengaruhi proses penyortiran hingga pengemasannya. Misalnya, kopi yang tercampur dengan tanah, daun dan ranting yang ikut terbawa saat pemetikan atau pada saat penjemuran kopi terkena air hujan, akan mempengaruhi cita rasa.

Menyimpan kopi harus ditempatkan dalam wadah kedap udara di tempat yang sejuk dan kering. Agar anda menikmati kopi berkualitas baik, maka belilah kopi secukupnya, agar dinikmati dalam keadaan segar. Sebab, kopi yang sudah dibuka akan mengalami perubahan suhu dan kualitas akan berubah. Bila anda menggunakan coffee maker, yakinkan alat itu dalam keadaan bersih dan terbebas dari sisa kopi sebelumnya. Sebab, bekas kopi sebelumnya bisa memunculkan bau tak sedap dan berpengaruh pada rasa kopi.

Seduh kopi dengan air mendidih agar rasa serta aromanya lebih terasa. Tunggulah sekitar semenit sebelum menuang bubuk kopi ke air mendidih di dalam gelas. Jangan langsung meminum kopi yang baru diseduh. Tunggu sekitar 3-5 menit sambil tambahkan gula sesuai selera. Jika suka kopi tanpa ampas, setelah tiga menit, ampas bisa langsung disaring.

 

DUA SISI MATA UANG

Menurut Harvard Women’s Health, mengonsumsi kopi beberapa cangkir sehari dapat mengurangi risiko beberapa penyakit berbahaya. Dua puluh studi yang dilakukan di seluruh dunia menunjukkan, kopi mengurangi risiko diabetes tipe 2 hingga 50 persen. Asam klorogenik di dalam kopi berperan memperlambat penyerapan gula dalam pencernaan dan merangsang pembentukan GLP-1, zat kimia yang meningkatkan insulin. Zat lain dalam kopi yaitu trigonelin (pro vitamin B3) juga diduga membantu memperlambat penyerapan glukosa.

Riset lain yang secara konsisten juga menunjukkan bahwa kopi mengurangi risiko kanker hati, kanker payudara dan kanker usus besar. Selain itu, kopi juga melindungi hati dari sirosis, terutama sirosis karena kecanduan alkohol.

Para peminum kopi juga memiliki risiko terkena Parkinson setengah lebih rendah dibanding mereka yang tidak minum kopi. Fakta lain, sebuah studi pada lebih dari 83.000 wanita berusia di atas 24 tahun menunjukkan, mereka yang minum 2-3 cangkir kopi sehari berisiko terkena stroke 19 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak. Studi terhadap sejumlah pria di Finlandia menunjukkan hasil yang sama.

Tak hanya itu. Studi lain yang dilakukan pada 4.197 wanita dan 2.820 pria di Perancis menunjukkan, minum setidaknya tiga cangkir kopi sehari dapat menghambat penurunan fungsi kognitif otak akibat penuaan hingga 33 persen pada wanita.

Meski begitu, kopi juga berefek negatif. Kafein sebagai kandungan utama kopi bersifat stimulan mencandu. Kafein mempengaruhi sistem kardiovaskuler, seperti peningkatan detak jantung dan tekanan darah. Kalau diminum secara berlebihan, bisa berakibat jantung berdebar-debar, sulit tidur, kepala pusing dan gangguan lainnya. Oleh karena itu, bagi mereka yang mengkonsumsi kopi agar tidak mengantuk–misalnya profesi seorang chef yang harus stand by berjam-jam di dapur. Untuk tetap terjaga dan meningkatkan konsenterasi, bila minum kopi, upayakan meminumnya dalam jangka waktu yang tidak berdekatan dan disebar sepanjang hari.

Kitorang Makan Papeda

Oleh: Lufti Avianto

*) Dimuat di Rubrik Traditional Touch, Majalah La Cuisine

Pernah dengar nama papeda? Ini bukan sejenis ikan lho, tapi makanan pokok masyarakat yang berada di paling timur Indonesia, Papua. Memang, sebagian besar rakyat di bumi nusantara ini lebih mengenal nasi sebagai makanan pokok. Padahal, ada aneka jenis makanan pokok lain yang dikonsumsi masyarakat kita yang bhineka. Ada sagu, jagung, keladi, ketela atau ubi jalar. Nah, papeda terbuat dari bahan yang pertama.

Bagi tiga juta rakyat Papua, papeda merupakan makanan pokok seperti halnya nasi bagi masyakarat Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Makanan sejenis papeda ternyata juga dikenal di Sulawesi Selatan sebagai kappurung atau di Sulawesi Tenggara sebagai sinonggi.

Tak mengherankan bila sagu menjadi makanan pokok provinsi yang berhasil direbut dari Belanda pada 1 Mei 1963 itu. Sebab, Papua memiliki hamparan tanaman sagu yang diperkirakan terluas di dunia dengan luas sekitar 700 ribu hektar. Dengan menguasai 85 persen total luas tanaman sagu di seluruh Indonesia, Papua menjadi provinsi penghasil sagu terbesar.

Papeda dibuat melalui proses gelatinisasi pati. Tepung sagu dimasukkan ke dalam tapisan (saringan) berbentuk niru kecil yang disebut tatohing. Kemudian diberi air sedikit demi sedikit secara terus-menerus sambil diremas-remas dan diayak di atas belanga yang disebut sempe.

Hasil saringan yang berupa tepung halus (pati sagu) jatuh ke dalam sempe, sedangkan ela (ampas sagu) tertinggal pada tatohing. Hasil penyaringan itu dibiarkan beberapa lama, sampai semua pati sagu mengendap, sedangkan airnya yang berwarna kemerah-merahan agak berbau asam dibuang.

Air yang telah mendidih segera dimasukkan ke dalam sempe sambil diaduk dengan cepat dan merata. Akibat guyuran air mendidih beruhu sekitar 100 derajat Celcius, pati sagu akan mengalami gelatinisasi, yaitu membentuk gel kenyal yang transparan. Gel itulah yang disebut papeda.

Tekstur kekentalan sagu pada papeda bisa dibuat sesuai selera. Anda tinggal mengatur rasio jumlah air panas terhadap pati sagu. Jumlah air yang lebih banyak akan menghasilkan papeda yang lebih lunak, dan sebaliknya. Karena kadar airnya yang tinggi, daya awet papeda relatif sangat rendah dibandingkan makanan yang semi kering atau kering.

Agar tidak cepat basi, papeda yang masih dalam keadaan panas dimasukkan ke dalam batang bambu bersih yang baru ditebang, lalu ditutup rapat. Dengan teknik ini, papeda dapat bertahan sampai empat hari.

Mengkonsumsi papeda, selain mudah menghasilkan energi bagi pemenuhan kebutuhan tubuh, juga memberikan efek kenyang dan menghilangkan rasa haus karena kadar airnya yang sangat tinggi. Bagi masyarakat Papua, papeda bisa dinikmati dengan ikan kuah kuning.

Biasanya, papeda diletakkan ke dalam piring yang agak cekung, atau bisa juga dengan mangkuk. Lalu ikan kuah kuning diguyur di atas papeda. Anda tak perlu mengunyah, bubur sagu ini bisa langsung ditelan bersamaan dengan kuah kuning yang asem dan segar ini. Hmmmm.

 

Cara Membuat Papeda

  1. Cairkan tepung sagu dengan 300 cc air, tempatkan di panci.
  2. Tambahkan garam dan gula.
  3. Didihkan sisa air (700 cc).
  4. Tuang air mendidih tadi ke dalam panci yang berisi larutan sagu lalu aduk sehingga sagu matang merata.
  5. Kalau masih belum rata matangnya bisa dijerang diapi yang sangat kecil sambil terus diaduk.
  6. Sagu dikatakan sudah matang kalau sudah berwarna bening semua. Bila masih ada yang berwarna putih susu, artinya belum matang.
  7. Penampakan papeda ini mirip dengan lem yang dibuat dari kanji.

 

Cara Membuat Ikan Kuah Kuning

  1. Ikan dibersihkan lalu lumuri dengan garam dan jeruk nipis.
  2. Haluskan bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe , kemiri, kenari dan cabai merah.
  3. Tumis bumbu halus tadi hingga harum, kemudian masukan daun salam sereh dan tomat.
  4. Tambahkan 700 cc air, biarkan mendidih.
  5. Masukkan ikan, tambahkan garam, gula dan cabai rawit utuh. Masak beberapa menit dengan api besar. Kemudian kecilkan api, masak kembali hingga ikan matang.
  6. Tambahkan daun kemangi dan 1 sdm jeruk sebelum diangkat.
  7. Kuah ikan siap dinikmati dengan papeda.

Jajal 11 Profesi Sebelum Jadi Pengusaha

Oleh: Lufti Avianto

*) Dimuat di rubrik Enterpreneur Side, Majalah La Cuisine

Tak banyak orang –dengan profesi serupa, mengambil keputusan seperti dirinya untuk berwirausaha. Adzan Tri Budiman, adalah seorang executive chef di Hyatt Regency Hotel, Yogyakarta yang mengambil pilihan berani dalam hidupnya. Dengan pengalaman dua belas tahun sebagai chef, dirasa cukup baginya untuk mengawali diri menjadi ‘sesuatu’.

Sebelum di puncak karir itu, adzan mengawali karir semasa kuliah sebagai apperentice & 2nd commis di Hotel Aryaduta pada 1990. Selang setahun kemudian, ia bergabung di Grand Hyatt Jakarta. Bersama Hyatt, hampir seluruh jejak karirnya dirintis bersama hotel kelas dunia. Mulai dari jabatan sebagai commis (1991), demi chef  (1991), sous chef de cuisine (1995), chef de cuisine (1997), executive sous chef (1998) hingga executive chef. Namun, pada 1993, dia sempat bergabung dengan kapal pesiar Norwegia yang bekerjasama dengan Amerika, Royal Viking Queen selama enam bulan. “Maklum kan butuh biaya buat nikah,” katanya.

Ketika memutuskan untuk jadi enterpreneur, alumnus Akademi Pariwisata dan Perhotelan Sahid Jaya ini telah melewati fase pengendapan ide. Apa yang bakal dilakukannya setelah meninggalkan hotel? Terlalu banyak ide yang menumpuk kala itu. Saking banyaknya, pria multitalent ini bahkan sempat menjajal 11 profesi. Mulai dari dosen, seniman, pedagang wine, pedagang daging, desainer grafis, pedagang panci, demo masak dan sebagainya. “Kebetulan memang di kasih bakat dengan kemampuan banyak hal, dan pada akhirnya memang , hal yang kita kuasai akan lebih menonjol,“ kata Adzan yang akhirnya memilih bisnis resto dan food consultant.

Tentu pilihan itu tidak main-main. Adzan telah mempertimbangkan banyak alasan. Dia melihat kebanyakan chef senior tak ada yang sukses dari segi apapun di hari tuanya. Lagi pula, usianya kala itu masih terbilang muda, 32 tahun. Sangat memungkinkan baginya, bila bisnis yang dibangunnya mengalami kegagalan, dia masih bisa balik ke hotel. Alasan lainnya, sistem manajemen yang ada di hotel, menurutnya, telah melahirkan diskriminasi antara chef lokal dan asing. Lengkaplah sudah, alasan lelaki kelahiran  Jakarta, 30 Mei 1968 ini untuk mundur.

Dia menganggap diskriminasi manajemen itu sebagai proses untuk menimba ilmu. Meski dalam beberapa hal, menurutnya chef lokal memiliki kemampuan untuk sejajar dengan chef asing, baik dari segi keterampilan, prinsip atau sudut pandang. Namun pada akhirnya, mentalitas menjadi letak perbedaannya. ”Jadi sebaiknya chef indonesia pergi ke luar negri apabila ingin melihat alasan kenapa kita di negara sendiri sangat tidak di hargai,” saran dia.

Pada saat keputusannya dibuat, tentu saja ada kekhawatiran yang menelusup soal keuangan. Hal paling sederhana yang dilakukan untuk mengusir perasaan itu adalah dengan kerja keras dan selalu berusaha. “Bukankah itu arti dari kata pengusaha?” retoris. Ketakutan itu cukup beralasan, mengingat dia tak memiliki pengalaman bisnis sama sekali. Namun berbekal jaringan dan kolega yang dimiliki, dia belajar semua secara otodidak. Yang terpenting dari materi pelajaran itu adalah, “proses mengubah pola pikir pekerja menjadi pengusaha,” katanya.

Tekadnya yang membulat, membuat ayah dua putra ini, tak merasakan lagi pahit-getirnya menjalankan roda usaha. “Semua masalah adalah proses,” katanya bijak. Sehingga apapun yang dialaminya dirasa baik-baik dan menyenangkan. Pada akhirnya memang diakui, ada kepuasan tersendiri dari keputusan yang diambil sepuluh tahun lalu untuk berwirausaha, dibandingkan dengan chef yang masih menjadi karyawan.

Maka, dibukalah Gabah Resto di Yogyakarta, sebagai tempat usaha yang pertama. Dalam hitung-hitungannya, dunia parawisata dan kuliner mempunyai prospek yang bagus ke depan. Tak hanya membuka restoran, dia juga menjadi tenaga food & beverage consultant beberapa restoran. Prinsipnya, “segala sesuatu bila dikerjakan dengan baik maka hasilnya akan baik pula.”

Hasil dari berpegang teguh terhadap prinsipnya itu berbuah manis. Restoran berikutnya pun turut dibuka di Yogyakarta, di antaranya Sapi Bali, Pasta Gio, Dapur Bata, Soto Pipi Sapi Babe Cilik, dan Teri Kacang, sementara di Solo ada Oh La Vita. Juga usaha food consultant untuk menanganai beberapa restoran di Yogyakarta, seperti Sekar Kedhaton, V Art Gallery Resto, Dapur Manado, Bumbu Pawon, Yo Café, Sasanti Resto.


Biodata

Nama                                    : ADZAN TRI BUDIMAN

Tempat, Tanggal Lahir  : Jakarta, May 30th 1968

Pendidikan                         : Akademi Pariwisata dan Perhotelan SAHID JAYA, Jakarta

Alamat                                  : Mudal RT 01/19, Sariharjo, Ngaglik – Sleman, Yogyakarta

Agama                                  : Islam

Status                                   : Menikah dengan 2 putra

Email                                     :  adzantomatogreen@yahoo.com

Blog                                       : www.melancholychef.com

Aktivitas Kemanusiaan  :

Bantul Earthquake

As a Chef for  emergency kitchen together with local comumunity, Profesional chef from Jakarta, Bandung, Semaramg and Solo and produced 2000 portions  traditional “Nasi Bunkus” , Cook in a trasional.

Keraton Yogyakarta Royal Wedding

As an Organizer from a few food vendors to served  every class of society. From President to common people around  the palace. 3 days event served about 10.000 guests

General Manager Hyatt International Meeting, 1996

Banquetting and Set menu style dinner, served 150 General manager from all Hyatt around the world , conducted  at the Grand Hyatt Jakarta

Executive Chef and Director of  Food & Beverage Meeting, 1996

Banquetting and Set menu style dinner, served about 150 Executive Chef and 150 Director of  Food & Beverage Hyatt International. Fully in charge on  one section with 20 crews serving 7 courses.

Padang Earthquake

As a Chef for  emergency kitchen together with local comumunity, produced 4000 portions  traditional “Nasi Bunkus” , Cook in a traditionawayl.

Merapi Eruption

As a Chef for  emergency kitchen together with local comumunity,  produced 5700 portions  traditional “Nasi Bunkus” , Cook in a traditionalway.

Membangun Restoran Desa Berkualitas Dunia

*) Advertorial ini dimuat di Majalah La Cuisine

Kematangan konsep ‘persinggahan di tepian danau’ terasa pas untuk restoran ini. Sebab, sulit untuk mencari restoran di Jakarta dan sekitarnya, yang membuat anda benar-benar ‘singgah’. Biasanya, saat kita hanya makan-selesai-pulang. Tak memberikan nilai dan pengalaman lebih, kecuali memenuhi kebetuhan perut.

Menurut salah satu pemilik Talaga Sampireun, Harianto, konsep ‘tempat singgah di tepian danau’ sudah dipersiapkan secara matang. Mulai dari lansekap sampai desain interior di setiap saung. “Kami memang sengaja membuat tempat ini dengan konsep desain senyaman mungkin bagi pengunjung,” katanya. Bahkan jarak antara saung yang satu dengan saung yang lain, dibuat tidak terlalu dekat, agar pengunjung mempunyai privasi saat sedang bersantap.

Tentu saja ini tak lain, karena Harianto sendiri mengawasi. Dan tak jarang, ia juga mencicipi hasil masakan dapur restorannya untuk menjaga kualitas. “Saya juga harus tahu apa yang masih terasa kurang, dan masakan apa yang sudah pas,” ujar Harianto. Tentu saja itu dilakukannya lantara tidak ingin mengecewakan para pengunjung yang datang ke tempat ini.

Tidak cukup sampai di situ, fasilitas dapur restorannya benar-benar dikelola dengan profesional layaknya restoran bintang lima. Harianto menjelaskan, “Di sini kami melengkapi diri dengan fasilitas standar yang terbaik, mulai dari segi alat sampai tempat penyimpanan. Kami mempunyai walking chiller berukuran tiga kali tiga, kemudian walking freezer juga berukuran sembilan meter persegi.

Di samping itu juga terdapat ruangan fresh fisher yang ber-AC, dan ruang bumbu tersendiri. Setidaknya ukuran dapur kami saja sebesar 250 meter persegi. Dan yang paling penting dari sebuah restoran biasanya kebersihannya, ini yang juga kami kelola secara baik, sehingga pengunjung benar-benar mendapatkan makanan yang terbaik dari dapur restoran kami.”

Ucapan Harianto memang terbukti dan bukan cuma omong kosong belakang. Hasil dari peningkatan mutu dan pelayanannya sehari-hari berbanding lurus dengan pengunjung yang datang. Bayangkan baru sekitar 9 bulan berdiri, setiap bulannya kini terdapat 38.000 ribu pengunjung dengan omset sekitar 3-4 miliar setiap bulannya.

“Jika anda ke tempat ini di akhir pekan, maka anda harus memesan tempat terlebih dahulu, karena memang biasanya full booking dan selalu terdapat daftar waiting list,” tukas Harianto, “Dan menurut kami semua hal yang terjadi saat ini adalah berkat dari yang di atas, karena jika memakai logika tentu akan sulit diperkirakan bagaimana semua ini terjadi.”

“Sekarang ini,” tegasnya, “Jika kita menyebut satu restoran dengan standar internasional saja di Jakarta, maka yang terbayang di kepala kita adalah restoran-restoran dengan makanan internasional. Lantas kemana makanan khas lokal Indonesia? Jawabannya tidak ada. Oleh karena itu, kami berharap kami dapat mencapai standar itu.”

Dan yang membuat restoran ini berbeda, benar-benar berbeda, Harianto memasang laporan di papan pengumuman tentang jumlah pajak yang telah Talaga Sampireun setorkan kepada negara. Jangan kaget, jumlahnya tidak tanggung-tanggung sekitar 300 juta setiap bulannya.

Sekilas memang terlihat biasa, tapi bagi anda pengelola pajak, atau anda seorang auditor, dan akuntan, tentu mengetahui bagaimana pengelolaan pajak di Indonesia. “Tentu anda tahu, tidak semua wajib pajak dengan jujur menyetorkan kewajiban pajak, apalagi pajak di bidang restoran,” ujar Harianto sambil tersenyum bangga. Jadi, untuk anda yang berkunjung ke Talaga Sampireun, selamat menikmati pengalaman kuliner di tepi danau yang tiada tara. Dan terakhir, tentu saja, anda tak perlu khawatir, pajak yang dibebankan lewat makanan anda pasti akan disetorkan oleh Talaga Sampireun.

Penulis: Lufti Avianto & Yudi Fachrurozy

Mengecap Sajian di Tepian Danau

Penulis: Lufti Avianto & Yudi Fachrurozy

*) Advertorial ini dimuat di Majalah La Cuisine

Alunan seruling bambu khas Sunda menyambut kami begitu sampai di tempat ini. Dua gadis cantik dengan berkebaya putih dipadu kain merah menyapa. Sepintas, tampak kami seperti menjejak di sebuah pedesaan nun jauh di ipelosok Jawa Barat yang tenang dan damai.

Pemandangan danau yang dikelilingi saung-saung terhampar ketika melongok ke dalam. Sementara aroma masakan ala kampung-kampung di Jawa Barat begitu menusuk setiap orang yang datang dan ingin menikmatinya. Maka, tak salah jika restoran ini diberi nama Talaga Sampireun yang berarti ‘tempat singgah di tepi danau’. Apakah anda salah satu yang ingin menghampirinya?

Tak perlu jauh hingga keluar kota Jakarta untuk menikmati suasana dan, tentu saja sajian khas Jawa Barat. Anda tentu tempat ini persis ada di Bintaro, Tangerang Selatan, dekat akses tol Bintaro menuju Jakarta.

“Tempat yang nyaman dengan keunikan nuansa arsitekturnya, dimana anda dapat mendengar desiran angin dan gemericik air yang membisikkan kesejukan ke dalam telinga batin,” kutipan kata-kata ini terdapat di halaman pertama buku daftar menu dari restoran ini. Dan memang tak salah, meski berada di wilayah Jakarta, namun begitu menempati saung-saung yang tesedia membuat setiap pengunjung enggan bergegas pulang.

Layaknya sebuah rumah makan Sunda, hidangan yang disajikan pun adalah makanan khas Negeri Parahyangan, yang memang terkenal lezat. Dan yang membuat ini istimewa dibandingkan rumah makan Sunda lainnya adalah penggunaan bahan baku alami yang paling segar. Ini bisa dirasakan, dari lidah saat mengecap makanan yang tersaji.

Dan yang biasa dipesan oleh pengunjung dari restoran ini yaitu ikan guramenya. Ya, ikan gurame terbang menjadi andalan restoan ini. Dalam sebulan, setidaknya restoran ini menghabiskan sembilan ribu ikan gurame per bulan. Menu gurame terbang begitu menggoda,  lantaran restoran ini mampu menjaga cita rasa. Bila dilongok ke dapur, rahasia penyajian ikan gurame tidak berubah-ubah dari segi rasa cara memasaknya tidak memakai kompor dan penggorengan seperti pada umumnya. Setidaknya terdapat delapan deep fryer untuk menggoreng ikan gurame agar rasa dan kegaringannya tidak berubah-ubah.

Tak hanya gurame yang istimewa. Restoran ini juga menyajikan menu lain yang tak kalah lezatnya. Anda yang menggemari makanan laut, tentu saja ada sajian udang, kepiting atau cumi. Dengan menu chef recommendation, seperti  Udang Windu Bakar Madu, Udang Goreng Cabe, Gurame Bumbu Mangga, Kepiting Soka Terasi dan Cumi Goreng Mangga. Sementara menu kuah, para chef resotan ini merekomendasikan Sop IgaTalaga Sampireun.

Untuk minuman, beragam sajian mulai dari panas atau minuman dingin juga tersedia. Kopi, the, jus buah segar, atau minuman ingan. Beberapa minuman andalan yang patut anda coba, yaitu Es Sirsak Talaga Sampireun,  Jus Sirsak,  Es Lobi Lobi, Jus Terong Belanda dan Jus Kedondong. Soal rasa dan kesegarannya, jangan ragukan sajian yang menjadi rekomendasi chef terbaik di sini.

Kalau anda sudah memesan makanan dan minuman itu, tunggulah barang sejenak. Uniknya, restoran ini akan memberikan anda voucher 100 ribu, bila pesanan minuman anda disajikan lebih dari 20 menit, atau makanan lebih dari 30 menit dari waktu yang tertera pada saat pemesanan. Ini menunjukkan, layanan restoran ini tak akan mebuat anda menunggu lama untukmenikmati kelezatan dan kesegaran sajian khas istimewa.

Saat-saat menunggu anda, bisa jadi takkan lama. Sebab, ada beragam fasilitas yang bisa anda coba. Tentu saja, fasilitas ini takkan anda temui di restoran lain di Jakarta dan sekitarnya. Pihak restoran mengizinkan pengunjung untuk memberikan makanan untuk ikan-ikan yang berada di danau. Dari pinggiran saung tempat kita menyantap makanan, anda bisa mengajak anak-anak untuk menebar umpan ikan yang dapat dibeli di restoran ini dan biasanya sudah terdapat di sudut-sudut saung pengunjung.

Tidak hanya itu, anda juga bisa merasakan pengalaman naik rakit bambu untuk sekadar mengelilingi sekitar danau. Tentu saja anda tidak perlu khawatir, karena akan ditemani karyawan restoran, dan kedalaman danau hanya sekitar satu meter.

Apa yang dilakukan Talaga Sampireun sebenarnya bukan hanya untuk memanjakan lidah pengunjung. Tapi, lebih dari itu. Restoran ini memberikan nuansa lokal dan makanan khas Indonesia yang juga dapat dibanggakan masyarakat Indonesia.

see more http://talagasampireun.com