Kisah Sepotong Adonan

Oleh: Lufti Avianto

*) Dimuat di Majalah La Cuisine

Ketika membaca judul buku ini, tentu saja ada sebuah kerut yang menggumpal di kening. Madre? Apa itu? Nama seorang gadis, kah? Atau sebuah tempat yang indah, dengan lembah dan permadani rumput yang hijau? Tak jelas pasti, hingga anda membaca buku yang ditulis Dee ini, sampai pada halaman ke sembilan. Ya, Dee membuat kita penasaran dalam sembilan halaman pertama, tanpa petunjuk berarti.

Tapi, janganlah anda melompat langsung ke halaman itu hanya untuk mengetahui apa  atau siapa Madre itu sesungguhnya. Bersabarlah. Bukalah mulai dari halaman muka, lalu lanjutkanlah dengan menikmati kalimat demi kalimat yang ditulis Dee.

Kisah Madre, diawali dengan kedatangan pemuda Bali, Tansen Roy Wuisan ke Jakarta untuk mengambil warisan dari orang yang tak dia kenal, Tan Sin Gie. Bukannya uang berlimpah atau harta karun yang diwarisi Tan kepada tourist guide dan pelatih surfing ini, tapi malah Madre.

Mulanya kecewa, jauh-jauh datang dari Bali hanya untuk mendapat Madre yang dinilainya remeh dan sama sekali tak berharga itu. Tapi, Madre telah membuka sebuah rahasia tentang asal-usul dan garis hidupnya. Dia menjadi tahu siapa sebenarnya kakeknya. Seorang pengusaha roti, yang ingin mewarisi kejayaan toko roti Tan de Bakker kepada generasi keturunannya. Dialah Tansen.

Perlahan namun padat, cerita bergulir. Tansen menulis di blog pribadinya tentang Madre yang diwarisi Tan kepadanya. Tulisan itu kemudian dibaca Mei, pengusaha roti sukses di Jakarta yang tertarik pada Madre.

Tansen akhirnya akan melepas Madre kepada Mei, namun batal lantaran tak tega dengan orang-orang yang selama ini menjaga Madre. Lantas, Tansen dan Mei menghidupkan kembali toko roti Tan de Bakker yang sudah lima tahun berhenti itu, menjadi Tansen de Bakker.  Ya, si tourist guide, pelatih surfing dan desainer lepas itu menjadi pembuat roti disebabkan Madre.

Romantisme dan humor yang mengemuka, dibalut gaya penceritaan yang lincah. Menurut saya, jarang ada penyanyi yang sukses, juga sukses dalam menulis. Dan Dee, berhasil melakukannya.

Dari 160 halaman tebal buku ini, saya kira hanya 72 halaman pertama yang begitu memikat. Hanya Madre, satu dari 13 cerita dan sajak yang begitu menarik untuk disimak. Memang, Madre menjadi ‘jagoan’ sekaligus judul buku yang disunting penyair Sitok Srengenge itu.

Kekuatan cerita Madre, sangat komplet. Pertama, engine cerita, yang membuat pembaca terus hanyut dalam lembar demi lembar ceritanya. Seolah tak sabar ingin tahu akhir cerita, kita dibuai dengan gaya penceritaan yang sangat memikat. Kedua, message atau pesan yang disampaikan. Humanisme.

Di sini, saya juga tak mau katakan, apa atau siapa Madre itu sesungguhnya. Yang perlu anda lakukan hanya bersegeralah membaca karya teranyar Dee ini, lalu temukan kejutan itu. Selamat membaca!

Judul Buku : Madre

Penulis : Dewi “Dee” Lestari

Penyunting: Sitok Srengenge

Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah

Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta

Cetakan: Pertama, Juni 2011

Tebal: 160 halaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s